Kerja Sama Indonesia dalam GHSA Hadapi Penyakit Global

Raka Lestari    •    Selasa, 06 Nov 2018 14:18 WIB
menteri kesehatan
Kerja Sama Indonesia dalam GHSA Hadapi Penyakit Global
Pertemuan Tingkat Menteri Global Health Security Agenda (GHSA) ke-5 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Jakarta: Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Global Health Security Agenda (GHSA) ke-5 pada tanggal 6-8 November di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali.

Pertemuan ini merupakan pertemuan tahunan dan tertinggi dalam forum GHSA dengan tujuan meningkatkan komitmen negara dalam pencapaian ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional.

Sekaligus sebagai upaya berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi bawah.

“Sejak dilaksanakan pertama pada tahun 2014, agenda kesehatan global telah memfasilitasi kesehatan dan tidak bisa dielakkan lagi GHSA adalah upaya global untuk mewujudkan masyarakat global yang bebas dari penyakit menular,” ujar Nila Moeloek, Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam press conferrence pembukaan GHSA kelima di Nusa Dua Bali, Selasa, 6 November 2018.


(Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Global Health Security Agenda (GHSA) ke-5 pada tanggal 6-8 November di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

(Baca juga: Pembukaan Global Health Securtiy Agent, Indonesia Ikut Berperan Wujudkan Ketahanan dan Kesehatan Global)

Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan negara Indonesia dengan negara-negara anggota GHSA adalah permasalahan resistensi antibiotik.

“Kita kerjasamanya misalnya adalah resistensi antibiotika. Ternyata resistensi antibiotika tidak hanya terjadi pada manusia tapi juga terjadi pada binatang. Ini yang menyebabkan akhirnya kita sadar bahwa kesehatan tidak bisa berdiri sendiri," ujar Menkes Nila Moeloek.

"Selain itu juga ada permasalahan pemakaian peptisida atau radio nuklir yang juga pada akhirnya berdampak pada kesehatan,” tutur Menkes lagi.

GHSA sendiri masih akan terus dilakukan dan saat ini sudah mencapai fase kedua yang akan berlangsung mulai dari 2019-2024 untuk meningkatkan kapasitas negara, kapsitas kerjasama di kawasan, dan kapasitas kerjasama di tingkat global demi kesiapan dalam menghadapi ancaman keamanan kesehatan global.




(TIN)