Peningkatan Produksi Rokok Ancam Kaum Muda Indonesia

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 13 Oct 2016 12:40 WIB
kesehatan dan produktivitas
Peningkatan Produksi Rokok Ancam Kaum Muda Indonesia
Di ASEAN, manusia Indonesia kalah bersaing dengan Singapura (11), Malaysia (62), dan Thailand (93). (Foto: Iamexpat.nl)

Metrotvnews.com, Jakarta: Data Tim Nasional Percepatan Pengendalian Kemiskinan (TNP2K) menyebutkan bahwa target produksi rokok dalam satu dekade ke depan jauh meningkat, dibandingkan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) lainnya, yaitu sebesar 50,8 persen.

Data TNP2K lainnya juga menunjukkan bahwa 55,4 persen remaja Indonesia antara usia 15-19 tahun disebutkan sudah mulai menjadi perokok aktif. Sementara, data Riskesdas 2013 mengungkapkan sebanyak 1,6 persen anak usia 5-9 tahun sudah terindikasi memiliki kecenderungan merokok.

Fakta tersebut juga ditegaskan oleh Staf Ahli Menko PMK RI Bidang Kependudukan RI, Dr. Sonny Harry B. Harmadi, S.E., M.E, yang mengaitkannya dengan potensi kelompok penduduk muda, dimana saat ini Indonesia memiliki sekitar 257 juta penduduk dan sebanyak 110 juta di antaranya adalah pemuda (45 juta berusia 10-19 tahun dan 65 juta berusia 16-30 tahun).

(Baca juga: Hati-hati Terpapar Racun Rokok Lewat Third-Hand Smoke)

“Ironisnya, tingginya angka kelompok usia remaja dan besarnya potensi mereka juga memperlihatkan tingginya kelompok yang rentan terpapar hal negatif seperti konsumsi produk tembakau. Kelompok inilah yang menjadi captive market bagi industri rokok yang beroperasi di Indonesia,” ujarnya, berdasarkan rilis yang diterima Metrotvnews.com, Rabu (13/10/2016).

Tentu saja efek domino dari kebiasaan merokok ini berdampak pada merosotnya kualitas kesehatan seiring gaya hidup tersebut. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 (data 2014) ada di urutan ke-110 dari 188 negara. 

Di ASEAN, manusia Indonesia kalah bersaing dengan Singapura (11), Malaysia (62), dan Thailand (93). Di Pasifik Barat, Indonesia tertinggal dibandingkan Korea Selatan (17) dan Tiongkok (90). 

Konsekuensi lainnya, konsumsi rokok menyebabkan peningkatan biaya Jaminan Kesehatan Nasional untuk pengobatan Penyakit Tidak Menular (PTM) sebesar 57 persen.








(TIN)

Video /