Migrain Dapat Memicu Stroke dan Masalah Jantung?

Torie Natalova    •    Senin, 02 Jul 2018 11:00 WIB
kesehatanmigrain
Migrain Dapat Memicu Stroke dan Masalah Jantung?
Sekitar sepertiga penderita migrain, sakit kepala yang disertai dengan aura atau penglihatan seperti lampu berkedip, bintik-bintik, kesemutan, dan mati rasa. (Foto: MarĂ­a Victoria Heredia Reyes/Unsplash.com)

Jakarta: Sebagian besar wanita mengalami migrain, terutama ketika periode haid tiba. Namun, bukan hanya sakit kepala yang Anda pikirkan dan waspadai. Pasalnya, migrain berkaitan dengan beberapa masalah kesehatan lainnya.

Mengetahui risiko penyakit yang terkait migrain dapat membantu Anda mengambil tindakan pencegahan. Dan inilah yang harus Anda perhatikan lebih lanjut untuk melindungi diri Anda.

1. Stroke
Sekitar sepertiga penderita migrain, sakit kepala yang disertai dengan aura atau penglihatan seperti lampu berkedip, bintik-bintik, kesemutan, mati rasa di wajah atau tangan, Anda berisiko lebih tinggi untuk stroke iskemik.

"Pil KB dan merokok berisiko untuk masalah pembekuan. Ada beberapa bukti bahwa pada penderita migrain, trombosit darah, dan risiko pembekuan meningkat," sebut artikel yang berjudul "8 Health Risks Linked to Migraines" dalam laman Prevention.

2. Masalah jantung
Migrain dapat meningkatkan risiko Anda untuk penyakit jantung. "Sebaiknya penderita migrain menghindari merokok dan penggunaan KB yang memengaruhi hormon. Penderita migrain dengan masalah jantung juga perlu hati-hati terhadap penggunaan obat migrain triptans yang dapat menyempitkan pembuluh darah di otak dan jantung," papar laman yang sama lagi.

(Baca juga: Tanda Sakit Kepala Karena Migrain)


(Sebagian besar wanita mengalami migrain, terutama ketika periode haid tiba. Namun, bukan hanya sakit kepala yang Anda pikirkan dan waspadai. Pasalnya, migrain berkaitan dengan beberapa masalah kesehatan lainnya. Foto: Felix Russell-Saw/Unsplash.com)

3. Migrain lebih banyak
Migrain akan terus menimbulkan migrain lainnya. Itulah mengapa penting untuk mencoba menghentikan mereka. Penderita migrain mungkin memiliki otak hyper excitable yang berarti gangguan kecil dapat menyebabkan sakit kepala seperti melewatkan makan, atau tidur malam yang buruk.

4. Depresi
Migrain muncul lebih sering pada orang yang memiliki penyakit bipolar dan depresi. Keduanya ada kecenderungan genetik untuk memiliki otak hyper excitable. Tidur nyenyak di malam hari atau berjalan setiap hari 20 menit di luar rumah dapat membantu menghindari migrain.

5. Kecemasan
Sekitar 50 persen dari penderita migrain kronis berjuang dengan kecemasan. Cara otak mengirim pesan kimia dari satu neuron ke neuron lain bisa memerankan peran memicu kecemasan tersebut.

6. Bell's palsy
Sebuah studi mengungkapkan bahwa orang yang menderita migrain, dua kali atau lebih mungkin mengembangkan penyakit Bell's palsy, suatu kondisi yang menginduksi kelumpuhan wajah. Bell's palsy memengaruhi saraf yang mengontrol gerakan dan otot wajah.

7. Parkinson
Jika migrain disertai kilatan cahaya atau aura, risiko Anda terkena penyakit Parkinson lebih besar dua kali lipat, terutama jika Anda menderita migrain pada usia paruh baya. Peneliti berspekulasi bahwa neurotransmitter dopamin berkaitan dengan hal ini.

8. Epilepsi
"Orang dengan migrain dua kali lebih mungkin menderita epilepsi, dan orang dengan epilepsi dua kali lebih mungkin mengalami migrain," jelas artikel yang ditulis oleh Jessica Migala dan Markham Heid ini lagi.





(TIN)