Bagaimana Melakukan Skrining Kanker Kolorektal?

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 04 Apr 2018 07:09 WIB
kesehatankanker
Bagaimana Melakukan Skrining Kanker Kolorektal?
Gejala dari kanker kolorektal sendiri umumnya muncul 10-20 tahun kemudian dimana 25 persen penderita terdiagnosa pada stadium lanjut. (Foto: Ben White/Unsplash.com)

Jakarta: Skrining adalah salah satu bentuk pencegahan terhadap penyakit berbahaya. Misalnya, skrining kanker payudara dilakukan dengan pemeriksaan IVA atau pap smear.

Tak hanya kanker payudara, skrining pada kanker kolorektal juga bisa dilakukan.

"Skrining dilakukan dengan cara pemeriksaan feses setahun sekali," jelas ahli penyakit dalam Prof. Dr. Aru W Sudoyo aspPD-KHOM, FACP, FINASIM dalam temu media di kantor Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Selasa 3 April 2018.

Dengan demikian, bila ditemukan pendarahan samar, maka dapat diindikasikan bahwa terdapat masalah pada pencernaan. "Tapi belum tentu kanker."

(Baca juga: Cegah Kanker Kolorektal, Batasi Konsumsi Makanan Cepat Saji)


(Tak hanya kanker payudara, skrining pada kanker kolorektal juga bisa dilakukan. Foto: Keenan Constance/Unsplash.com)

Gejala dari kanker kolorektal sendiri umumnya muncul 10-20 tahun kemudian dimana 25 persen penderita terdiagnosa pada stadium lanjut.

"Pada kondisi ini, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan tingkat keberhasilan juga menurun," ujar ahli penyakit dalam lain dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM pada kesempatan yang sama.

Ia menambahkan, persentase bertahan hidup hingga lima tahun juga tak besar bagi mereka yang terdeteksi pada stadium lanjut, yaitu 10-12 persen. 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan bahwa kanker kolorektal merupakan penyebab kematian kedua terbesar pada pria dan ketiga pada wanita.






(TIN)