Penelitian: Angka Harapan Hidup Wanita dengan Penyakit Jantung Lebih Kecil daripada Pria

Anggi Tondi Martaon    •    Jumat, 20 Jul 2018 14:55 WIB
penelitianjantung
Penelitian: Angka Harapan Hidup Wanita dengan Penyakit Jantung Lebih Kecil daripada Pria
Berdasarkan laporan dari Harvard, usia rata-rata serangan jantung pertama yang dialami seorang wanita adalah 72 tahun. (Foto: Anthony Tran/Unsplash.com)

Jakarta: Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian orang dewasa di seluruh dunia. Namun, jika dilihat dari jenis kelamin, salah satu penyakit kronis itu lebih banyak merenggut nyawa wanita.

Menurut penelitian baru dari University of Ottawa Heart Institute, kaum hawa lebih rentan meninggal karena gagal jantung dibandingkan laki-laki.

"Ada perbedaan berbasis seks yang diketahui dalam faktor risiko, persentase, dan manajemen penyakit jantung," tulis para penulis penelitian dalam makalah mereka saat dikutip dari Foxnews melalui artikel yang berjudul "Why heart attacks kill more women than men" tersebut.

Berdasarkan data dari 90.000 pasien gagal jantung antara 2009 dan 2014, 16,8 persen wanita meninggal dalam satu tahun. Sedangkan angka kematian kaum adam akibat penyakit jantung hanya 14,9 persen.


(Harvard Medical School juga mengungkapkan, wanita lebih rentan mengidap penyakit pembuluh kecil daripada pria. Penyakit pembuluh kecil adalah suatu kondisi di mana terjadi di otot jantung dan sulit dideteksi. Foto: Connor Wells/Unsplash.com)

(Baca juga: 7 Tanda Serangan Jantung yang Sering Diabaikan Wanita)

Dikutip dari Nypost fenomena ini terjadi sejak 1984. Para ilmuwan menduga, salah satu penyebabnya karena pasien berjenis kelamin wanita pada umumnya lebih tua dan lemah daripada pria. 

Berdasarkan laporan dari Harvard, usia rata-rata serangan jantung pertama yang dialami seorang wanita adalah 72 tahun. Sementara, untuk pria mayoritas terjadi pada usia 65 tahun.

Harvard Medical School juga mengungkapkan, wanita lebih rentan mengidap penyakit pembuluh kecil daripada pria. Penyakit pembuluh kecil adalah suatu kondisi di mana terjadi di otot jantung dan sulit dideteksi.

Penulis studi Ottawa berharap karya mereka akan mendorong studi lebih lanjut. "Pada perbedaan jenis kelamin dalam perilaku pencarian kesehatan, terapi medis dan tanggapan terhadap terapi untuk meningkatkan hasil pada wanita," kata peneliti.





(TIN)