Kenaikan Berat Badan Selama Hamil Tingkatkan Risiko Preeklamsia?

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 20 Jun 2018 12:39 WIB
kehamilan
Kenaikan Berat Badan Selama Hamil Tingkatkan Risiko Preeklamsia?
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Penambahan berat badan selama kehamilan adalah wajar. Namun, hal tersebut juga bisa memicu preeklamsia, masalah kehamilan yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi gestasional. 

Preeklamsia biasanya terjadi setelah kehamilan 20 minggu dan dapat menyebabkan ibu mengalami kejang, stroke, dan gagal ginjal, hingga menyebabkan bayi lahir mati.

Meskipun obesitas sebelum kehamilan dianggap sebagai faktor risiko untuk kondisi ini, penelitian sebelumnya tentang bagaimana kenaikan berat badan dalam 20 minggu pertama kehamilan dapat mempengaruhi risiko preeklamsia telah terbukti tidak meyakinkan, menurut penulis studi Dr. Jennifer Hutcheon.

Para peneliti dari University of British Columbia (Kanada), Karolinska Institutet dan Uppsala University (Swedia), serta University of Pittsburgh (Amerika Serikat) tersebut meneliti 62.705 wanita Swedia yang sedang hamil pertama dan melacak kenaikan berat badan mereka selama hamil. 

Para peneliti juga melihat siapa yang berisiko mengalami preeklampsia dan tanggal diagnosis untuk melihat apakah preeklamsia yang alami adalah prematur dini (kurang dari 34 minggu), prematur terlambat (34-36 minggu), atau tepat waktu (lebih dari 37 minggu).

Hasil dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal American Heart Association Hypertension tersebut menunjukkan bahwa 4,4 persen mengalami preeklamsia, dimana risiko tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya berat badan selama kehamilan. 

Selain itu, pertambahan berat badan saat usia kandungan di atas 37 minggi berisiko mengalami preeklamsia  yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengalami pertambahan berat badan di awal kehamilan dengan istilah preeklampsia, yang berkembang setelah 37 minggu kehamilan, dibandingkan dengan bentuk preeklamsia yang lebih berat yang berkembang lebih awal pada kehamilan.

Selain itu, petambahan berat badan saat hamil yang tinggi berkaitan lebih kuat dengan preeklamsia tepat waktu, yaitu di atas 37 minggu, dibandingkan preeklamsia di awal kehamilan. 

Risiko tersebut juga paling menonjol pada wanita yang memiliki berat badan lebih rendah pada awal kehamilan dibandingkan dengan wanita yang kelebihan berat badan atau obesitas pada awal kehamilan.

Untuk wanita yang hamil bukan kembar, Akademi Kedokteran Nasional AS merekomendasikan bahwa wanita yang kekurangan berat badan dengan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari 18,5 akan mengalami kenaikan berat badan 12-18 kg. Sementara wanita dengan IMT 18,5-24,9 biasanya mengalami kenaikan sebanyak 11-15 kg. Wanita dengan IMT  25-29,9 akan mengalami kenaikan sebesar 6-11 kg dan wanita dengan IMT di atas 30 mengalami peningkatan 4-9 kg. 

Sepuluh juta wanita di seluruh dunia mengalami preeklampsia setiap tahun, dengan 76 ribu wanita hamil dan sekitar 500 ribu bayi meninggal setiap tahun karena kondisi tersebut, menurut Preeclampsia Foundation.




(DEV)