Puasa saat Hamil dan Menyusui

Media Indonesia    •    Kamis, 01 Jun 2017 10:16 WIB
tips kesehatan
Puasa saat Hamil dan Menyusui
Ilustrasi (Foto: doctors-hospital.net)

Metrotvnews.com, Jakarta: Saat hamil dan menyusui, kebutuhan kalori meningkat. Manfaatkan rentang waktu magrib sampai imsak untuk memenuhi kebutuhan kalori itu. Saat hamil dan menyusui, kebutuhan kalori meningkat. Manfaatkan rentang waktu dari magrib sampai imsak untuk memenuhi kebutuhan kalori itu.

IBU hamil dan menyusui termasuk golongan yang diberi keringanan untuk tidak menjalankan puasa Ramadan. Mereka boleh mengganti kewajiban itu dengan berpuasa di hari lain dan membayar fidiah (memberi makan kaum fakir miskin).

Meski demikian, ada kalanya ibu hamil dan menyusui juga tetap ingin menjalankan puasa Ramadan. Bagaimana tinjauan medisnya?

Menurut dokter spesialis gizi klinik Diana F Suganda, ibu hamil dan menyusui boleh-boleh saja berpuasa asalkan dalam kondisi sehat dan bisa memenuhi kebutuhan gizi, termasuk asupan cairan, sama seperti saat tidak berpuasa.

"Kuncinya, pandai-pandai memanfaatkan rentang waktu dari berbuka sampai sahur untuk memenuhi asupan gizi dan air putih yang cukup untuk kebutuhan diri dan perkembangan janin dalam kandungan atau untuk produksi air susu ibu (ASI) bagi bayi," kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)-Bintaro, Tangerang Selatan, pada diskusi media di Jakarta, pekan lalu.

Ia menjelaskan, dalam kondisi hamil, seorang perempuan memerlukan tambahan asupan kalori. Pada kehamilan trimester (tiga bulan) pertama, tambahan yang diperlukan ialah 180 kkal per hari. Pada trimester kedua dan ketiga, tambahan yang diperlukan ialah 300 kkal. Setara dengan satu piring nasi beserta lauk pauknya.

Untuk ibu menyusui, tambahan kalori yang dibutuhkan lebih banyak lagi. Yakni 600 kkal perhari. Berdasarkan penelitian, ibu menyusui rata-rata memproduksi ASI 700-800 cc/hari dan itu setara dengan 600 kkal. "Jadi, selain perlu makan tiga kali seperti hari biasa, juga perlu menambah satu porsi lagi atau diganti dengan asupan susu dan snack," imbuh Diana.

Yang harus diperhatikan, lanjutnya, bukan hanya jumlah kalori yang harus mencukupi. Komposisi makanan juga wajib mengikuti konsep gizi seimbang. Yakni, terdiri dari sumber karbohidrat, protein, dan lemak, serta vitamin, mineral, juga serat.

"Sesuai dengan tumpeng gizi seimbang, asupan per hari yang dianjurkan ialah makanan pokok 3-4 porsi per hari, sayur 3-4 porsi, buah 2-3 porsi, lauk hewani/nabati 2-4 porsi. Itu dalam kondisi normal. Ibu hamil dan menyusui perlu ditambah lagi," terang Diana.

Asupan air putih juga amat penting. Dalam kondisi hamil, cairan tubuh harus cukup untuk menjaga kelancaran sirkulasi darah dan produksi air ketuban. Dalam kondisi menyusui, cairan sangat diperlukan untuk memproduksi ASI.

"Konsumsi air putih yang dianjurkan yakni 8-12 gelas per hari. Untuk ibu menyusui, minimal 10 gelas per hari. Jadi, lagi-lagi, ibu harus memanfaatkan rentang waktu dari berbuka hingga sahur untuk minum air putih sebanyak itu," tutur Diana.

Perhatian khusus

Diana juga mengingatkan ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat seorang ibu hamil atau menyusui sebaiknya tidak berpuasa. Pertama, ibu hamil di trimester pertama, mengalami diabetes gestasional (diabetes melitus yang hanya terjadi saat kehamilan), hamil kembar, dan anemia.

"Pada trimester pertama, terjadi perubahan hormonal yang memicu mual muntah sehingga ibu berisiko kekurangan asupan makan dan minum. Jadi, sebaiknya jangan berpuasa," ujarnya.

Ibu yang sedang memberi ASI eksklusif bagi bayi usia 0-6 bulan juga dianjurkan untuk tidak berpuasa. "Di usia 0-6 bulan bayi hanya mengasup ASI. Jika produksinya kurang, dikhawatirkan anak kekurangan gizi dan menjadi rewel. ASI adalah hak bayi, ibu sebaiknya mengutamakan menyusui. Toh, menyusui juga bentuk ibadah dan agama memberi keringanan untuk tidak berpuasa," sambung Diana.

Selain itu, bagi ibu hamil dan menyusui yang di tengah puasanya mengalami mual, muntah, berkunang-kunang, berdebar-debar, dan keluar keringat dingin, sebaiknya segera membatalkan puasa. Itu tanda-tanda tubuh kekurangan glukosa parah. Satu hal lagi, sebelum ibu hamil dan menyusui memutuskan berpuasa, sebaiknya konsultasikan dengan dokter," pungkasnya.


(DEV)