Tema Khusus Rona

Shanti, Warrior Kanker Payudara yang Siap Berbagi Dukungan untuk Perempuan

Raka Lestari    •    Senin, 15 Oct 2018 16:19 WIB
kanker payudara
Shanti, Warrior Kanker Payudara yang Siap Berbagi Dukungan untuk Perempuan
Shanti didiagnosis menderita kanker payudara stadium 3B pertama kali pada bulan Maret 2010. Namun ia tetap tak pernah patah semangat dalam berbagi pengetahuan seputar kanker payudara. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Jakarta: Perempuan mana yang tidak takut mendengar kata "kanker payudara". Mendengarnya saja sudah dibuat bergidik. Tak berlebihan karena kanker payudara merupakan salah satu kanker mematikan yang tentunya menjadi momok yang menakutkan bagi para wanita. 

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), saat ini 1 dari 8 perempuan berisiko terkena kanker payudara. Di Indonesia sendiri, jumlah pasien yang datang memeriksakan diri ke rumah sakit semakin muda yaitu (sekitar 25-35 tahun) dan sebagian besar sudah pada stadium lanjut. 

Jika merujuk pada Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2010, jumlah pasien kanker payudara sebanyak 21.014 (28.7%) dan berdasarkan data dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, sebagai rumah sakit rujukan nasional, jumlah pasien rawat jalan dan inap sebanyak 40 persen merupakan kanker payudara. Hal ini menunjukkan kanker payudara telah menjadi kasus kematian tertinggi di Indonesia.

Rasa sedih serta takut itu juga yang dirasakan oleh Shanti Rosa Persada, perempuan kelahiran 22 Mei 1967 di Bukittinggi. Namun menderita kanker payudara stadium lanjut tidak membuatnya terpuruk dalam kesedihan dan justru membuat dirinya semangat untuk membuat sebuah komunitas bernama Lovepink Indonesia yang bertujuan untuk memberikan support kepada sesama penderita kanker payudara lainnya di seluruh Indonesia. 

Diagnosis Kanker Payudara Pertama

Shanti didiagnosis menderita kanker payudara pertama kali pada bulan Maret 2010. Pada saat itu, Shanti menderita kanker payudara stadium 3B.

"Saat pertama kali divonis kanker payudara pada tahun 2010 tersebut, rasanya dunia saya hancur banget. Tapi saat itu juga saya melihat bahwa ibu saya tegar sekali. Jadi saya berpikir, ibu saya saja bisa kuat masa saya tidak bisa kuat," ujar Shanti yang sudah berkali-kali menjalani kemoterapi untuk kankernya tersebut. 

Setelah mendapatkan vonis kanker payudara, Shanti pun langsung mencari-cari informasi mengenai penyakitnya tersebut. "Nah, bingunglah ya cari-cari informasi tentang kanker payudara. Di berbagai situs internet Indonesia hampir tidak ada, semuanya berbahasa Inggris," tutur Shanti. "Kemudian saya berpikir, bagaimana nasibnya mereka yang tidak bisa bahasa Inggris?"

Hingga akhirnya pada Mei 2010 teman Shanti mengenalkannya dengan Madelina Mutia yang akhirnya membuat Shanti berkeinginan untuk membuat sebuah komunitas bagi sesama penderita kanker payudara. 

"Jadi sejak bulan Mei itu saya ketemu Muti, kita sama-sama ngobrol setiap hari, lewat BBM ya kalau waktu itu terus saya lewat telepon juga, rasanya kok kayak lebih ringan ngejalanin semua journey-nya. Habis itu sebulan dua bulan berikutnya ada teman yang istrinya juga terkena kanker payudara dia minta ketemu saya dan Muti. Nah, mulai dari situ berkembang terus."

(Baca juga: Survivor Kanker Payudara Berbagi Tips Mencegah Mual Usai Jalani Kemoterapi)


(Shanti didiagnosis menderita kanker payudara pertama kali pada bulan Maret 2010. Pada saat itu, Shanti menderita kanker payudara stadium 3B. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Yayasan Resmi Berdiri

Pada tahun 2014, komunitas yang Shanti dirikan bersama beberapa teman-temannya tersebut akhirnya resmi menjadi sebuah yayasan. Hal ini menurut Shanti dilakukan agar lebih mudah untuk melakukan berbagai koordinasi, terutama untuk bekerja sama dengan pihak luar. 

"Tahun 2014 barulah kita legal sebagai yayasan karena kalau kita enggak melegalkan bergeraknya enggak mulai karena enggak ada legal dokumennya," ujar wanita yang selalu tampil modis ini.

"Jadi orang kalau ingin bekerja sama atau orang mau mendonasikan sesuatu juga tidak susah. Dan untuk kita pun untuk kalau untuk membuat event-event agak repot kalau hanya komunitas-komunitas saja. Akhirnya kita membuat Yayasan Daya Dara Indonesia ini di tahun 2014. Ketika itu kita sudah memberi support kepada kurang lebih 100 orang survivor dan terus berkembang sampai saat ini sudah lebih dari 1000 orang yang kita support.

Memang bagi mereka yang menderita kanker biasanya memiliki dua sebutan yang berbeda, yaitu warrior atau fighter dan survivor.

"Seseorang yang sudah terdiagnosa kanker payudara itu disebutnya sebagai warrior atau fighter. Nah, kemudian kalau mereka sudah sembuh, meskipun sudah sembuh kan tetap harus awas, itu namanya survival karena mereka harus tetap melakukan kontrol dan waspada."

Saat ini, komunitas Lovepink Indonesia-gerakan yang diinisiasi oleh Yayasan Daya Dara Indonesia sudah tersebar di empat kota di Indonesia yaitu Jakarta, Banjarmasin, Padang, dan Yogyakarta. Meskipun pusatnya masih berada di Jakarta karena hampir sebagian besar pengurus Lovepink Indonesia ini berada di Jakarta dan semua pengurus dari komunitas ini adalah mereka semua yang tercatat sebagai warrior ataupun survivor kanker payudara. 

Memberikan Mental dan Moral Support Kepada Sesama Anggota

"Saat ini yang kita lakukan adalah kita memberi mental support dan juga moral support karena kalau kita memberi financial support tidak akan sanggup karena satu pasien saja itu minimal menghabiskan Rp250 juta. Itu minimal," tegasnya. Namun Shanti mengaku bersyukur bahwa saat ini sudah ada BPJS Kesehatan yang menanggung seluruh biaya pengobatan sehingga sudah lebih meringankan. 

Menurut Shanti, selain financial support, mental support kepada penderita kanker payudara juga merupakan sesuatu yang sangat penting.

"Jadi diluar financial support ya mental support lebih penting. Kita untuk sesama warrior dan survivor hampir setiap bulan mengadakan gathering. Jadi kita membuat gathering misalnya temanya bulan ini meditasi, self healing, atau bulan depan yoga, bulan depannya lagi misalnya cooking health, pokoknya isu-isunya berhubungan dengan kanker payudara semua."

Selain itu, kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh para anggota Lovepink Indonesia ini adalah dengan melakukan Pink Talk.

Kegiatan Pink Talk ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh para anggota dan pengurus di mana mereka akan melakukan sosialisasi mengenai pentingnya mendeteksi kanker sejak dini ke berbagai tempat, mulai dari sekolah, pabrik, puskesmas, pasar, bahkan juga ke perusahaan-perusahaan. 

"Selain itu, kita juga punya mobil USG. Jadi itu kita bawa biasanya untuk memeriksa orang-orang, biasanya perempuan itu kan suka malas untuk memeriksakan payudaranya. Kita periksakan di sana." 

Menurut Shanti terkadang para wanita jarang sekali memeriksakan payudaranya padahal seharusnya setiap wanita harus memeriksakan payudaranya setahun sekali dengan melakukan USG pada payudaranya, terutama bagi wanita yang sudah dewasa. 

"Terkadang mereka hanya fokusnya di serviks padahal itu alat reproduksi yang sangat berhubungan dengan payudara. Jadi pengetahuan yang sangat terbatas pada perempuan-perempuan Indonesia menyebabkan angka kanker payudara itu meningkat di stadium lanjut. Jadi ketahuannya selalu sudah terlambat." 

Shanti juga bercerita bahwa anggota dari Lovepink Indonesia ada yang masih berusia 16 tahun. "Anggota kami bahkan ada yang paling muda itu 16 tahun dan sudah harus dibuang payudaranya. Dan bukan hanya dibuang payudaranya ya, pengobatan kanker itu kan dapat menyebabkan menopause karena pemicunya adalah hormon wanita, nah jadi itu diredam sehingga menyebabkan menopasue dan kemungkinan besar tidak punya anak."

Penyebab Terjadinya Kanker Payudara

Kanker payudara memang merupakan penyakit yang disebabkan karena berbagai faktor. Dan faktor terbesar yang dapat memicu terjadinya kanker payudara adalah lifestyle atau gaya hidup seseorang. 

"Penyebab kanker payudara 90 persen adalah karena faktor lifestyle. Sedangkan 10 persennya bisa terjadi karena kurang beraktivitas, obesitas, dan Indeks Massa Tubuh (BMI) yang lebih dari 25," ujar dr. Rachmawati, Sp.B (K) Onk, Dokter Spesialis Bedah Onkologi dari RS Pondok Indah - Bintaro Jaya saat dihubungi oleh Medcom.id pada Jumat, 12 Oktober 2018. 

Dr. Ira, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa stres juga menjadi salah satu pemicu terjadinya kanker payudara karena ketika seseorang mengalami stres kekebalan tubuh juga akan menurun meskipun persentasenya tidak sebesar faktor gaya hidup itu tadi.

"Wanita usia subur juga bisa memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara terutama jika mereka menggunakan alat kontrasepsi yang bersifat hormonal, misalnya pil KB atau suntik. Sebenarnya masih aman menggunakan alat kontrasepsi yang bersifat hormonal, tetapi dengan catatan harus melakukan monitoring yang ketat."

Untuk itu, dr. Ira menyarankan agar para wanita melakukan SADARI atau periksa payudara sendiri pada saat hari ketujuh sampai hari kesepuluh menstruasi. 

"Maksudnya hari ketujuh itu dihitung sejak hari pertama mereka menstruasi, bukan tujuh hari setelah berhenti menstruasi. Pada hari ketujuh sampai kesepuluh tersebut, bisa dicek payudaranya apakah ada benjolan atau tidak atau ada perubahan bentuk payudara atau tidak. Tetapi memang, yang paling optimal adalah dengan melakukan USG payudara atau mamografi."


(Pada tahun 2014, komunitas yang Shanti dirikan bersama beberapa teman-temannya tersebut akhirnya resmi menjadi sebuah yayasan, Yayasan Daya Dara Indonesia dan membuat gerakan Lovepink Indonesia?. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Tidak Ada Ciri Khusus pada Stadium Awal Kanker Payudara

"Kalau untuk ciri awal kanker payudara memang tidak terasa, namun yang membedakan kanker payudara dengan tumor jinak pada payudara adalah jika terjadi benjolan biasanya benjolan tersebut akan lebih keras dan tidak goyang atau sudah terfiksasi dan tidak terasa nyeri. Rata-rata kanker payudara memang tidak terasa nyeri," ujar dr. Ira. 

Barulah setelah masuk ke stadium lanjut, menurut dr. Ira kanker payudara bisa menyebabkan perubahan warna pada kulit payudara. Dan juga pada stadium lanjut, bisa juga keluar cairan dari puting susu. "Biasanya selama empat minggu berturut-turut dan itu terjadi begitu saja, tidak dipencet-pencet atau dilakukan apa-apa." 

Pada kanker payudara, semakin diketahui sejak dini tentu kemungkinan sembuhnya masih sangat tinggi bahkan bisa mencapai 100 persen.

"Angka harapan hidupnya dari stadium 0-1 itu bisa sampai di atas 90 persen, bahkan bisa sampai 100 persen kalau masih stadium nol. Maksudnya stadium nol adalah kankernya belum menembus membran basal. Pada stadium 2 itu 75 persen, dan stadium 4 sudah 25 persen," tutur dr. Ira. 

Cara Mencegah Kanker Payudara

Menurut dr. Ira, cara mencegah terjadinya kanker payudara adalah dengan menjalankan hidup sehat yaitu dengan tidak merokok, minum-minuman beralkohol, dan jangan lupa untuk berolahraga. 

"Untuk makanan dan minuman memang belum ada penelitiannya ya, tetapi yang pasti adalah usahakan untuk mengurangi makanan berlemak dan karbohidrat tinggi juga sebaiknya dihindari. Hal ini karena makanan yang mengandung karbohodirat tinggi biasanya akan dijadikan cadangan lemak jika tidak digunakan."

Selain itu, olahraga secara rutin juga harus dilakukan. "Dianjurkan untuk berolahraga selama 75 -150 menit atau sebanyak lima kali seminggu. Olahraga yang dilakukan kalau untuk orang yang sudah tua bisa dengan olahraga yang moderate impact seperti jogging. Sedangkan untuk yang masih muda bisa melakukan jenis-jenis olahraga yang high impact, yang terpenting adalah dilakukan secara rutin."




(TIN)