Virus Zika dan Dampaknya Terhadap Janin

   •    Senin, 24 Oct 2016 19:14 WIB
virus zikakamus kesehatan
Virus Zika dan Dampaknya Terhadap Janin
(Foto: The Guardian)

Metrotvnews.com, Jakarta: Beberapa waktu terakhir, dunia kesehatan khususnya obstetri diguncang isu mengenai infeksi virus zika.

Zika pernah menjadi epidemi di Afrika, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik, sebelum akhirnya kembali merebak di Brasil dan Kolumbia pada 2015. Pada Mei 2015, Pan American Health Organization (PAHO) menetapkan infeksi zika pada kehamilan sebagai darurat nasional di bidang kesehatan.

Sebagai negera tropis, Indonesia harus tetap waspada karena penyakit ini ditularkan melalui virus dengan vektor nyamuk. Sama dengan infeksi virus pada umumnya , infeksi zika menyebabkan gejala utama berupa demam tinggi yang timbul mendadak. Namun jika dibandingkan dengan demam Dengue, maka gejala klinis yang ditimbulkan relatif lebih ringan.

Gejala klinis infeksi zika adalah demam, ruam kemerahan pada kulit, nyeri sendi, peradangan selaput mata, nyeri kepala, dan nyeri otot. Gejala terjadi hanya untuk beberapa hari, jarang lewat dari satu minggu, dan kemudian hilang dengan sendirinya. Hal ini karena pola self limiting yang cepat.

Infeksi self limiting adalah penyakit yang pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Itu sebabnya, banyak penderita yang mengira mereka hanya menderita flu biasa. Penderita sangat jarang mengalami gejala klinis berat hingga membutuhkan rawat inap, atau bahkan kematian.

Namun, pada ibu hamil hal ini menjadi berbeda. Meski dampak klinisnya ringan bagi sang ibu, bagi janin dampaknya sangat fatal. Antara lain menyebabkan kerusakan jaringan dasar otak (parenkim otak), serta kelainan struktur tulang kepala (mikrosefal), yang akan diderita seumur hidup oleh janin yang terinfeksi.




Virulensi (penyakit yang disebabkan oleh virus) dilaporkan memiliki angka yang cukup tinggi, yakni 20 persen yang berarti bahwa pada 5 ibu hamil yang terpapar sumber infeksi, maka 1 di antaranya akan terinfeksi yang berpengaruh pada janin.

Mikrosefali adalah suatu kondisi dimana ukuran kepala janin lebih kecil dari 2,5 persenti ukuran terkecil kepala janin menurut ilmu kehamilan, akibat otak janin tidak berkembang sebagaimana seharusnya, sehingga pertumbuhan dan perkembangan kepala serta organ lain terhambat. keadaan ini dapat dilihat melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Kelainan pada janin tersebut dapat berupa:

1. Pengendapan kalsium di dalam otak (kalsifikasi selebral) pada parenkim otak, serta daerah paraventrikular.

2. Kerusakan vermis serebelum (bagian otak yang terbentuk seperti cacing, berada di antara kedua

sisi otak kecil)

3. Disgenesis korpus kalosum (kumpulan serabut saraf yang lebar dan datar sepanjang 10 sentimeter

di bawah korteks)

4. Fisura Interhemisfer (antara bagian otak), dapat sangat luas, dikarenakan artrofi (pengecilan atau penyusutan jaringat otot atau jaringan saraf) otak.

5. Ventrikulomegali (pelebaran sistem ventrikel otak tanpa disertai perubahan abnormal diameter biparietal).

6. Kerusakan talamus (struktur simetris di dalam otak, terletak antara korteks otak besar dan otak

tengah).

7. Kerusakan pada batang otak dan pons (bagian batang otak, terletak di antara otak tengah dan otak bawah), di depan cerebelum.

8. Kerusakan mata: kalsifikasi, katarak, ukuran kecil, dan gambaran abnormal lainnya.


Transmisi zika dapat juga terjadi melalui hubungan seksual. Hal ini didukung oleh studi yang memperlihatkan bahwa virus zika mampu berkembang biak pada cairan semen pria antara 2 sampai 10 minggu setelah fase klinis selesai.

Sebuah kasus pernah dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kota Dallas, Amerika Serikat ketika setika seorang ahli biologi yang baru saja kembali dari daerah epidemi infeksi zika di Afrika berhubungan intim dengan istrinya, lalu beberapa saat kemudian istrinya menunjukkan gejala klinis infeksi zika.

Dengan berbasis bukti tersebut, maka CDC (Center for Disease Control and Prevention) merekomendasikan para pria yang baru pulang dari negara dengan epidemi zika untuk melakukan pemeriksaan darah. Bila hasilnya positif, maka dianjurkan menggunakan kondom saat berhubungan intim, terutama bila hubungan intim
dilakukan dengan perempuan yang sedang hamil.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejalan dengan CDC pada 5 Februari lalu menyampaikan bahwa adanya keterkaitan antara infeksi zika pada kehamilan dan infeksi mikrosefali. Oleh karena itu, deteksi infeksi zika serta langkah pencegahan diperlukan untuk mengurangi penyebaran yang luas dan cepat sehingga dapat menekan laju pertambahan angka kejadian mikrosefali.

Hingga kini belum ada tindakan terapeutik yang efektif untuk mencegah transmisi zika dari ibu kepada janin. Vaksin sedang dikembangkan dan menunjukkan hasil yang menggembirakan, meskipun harus melalui beberapa fase uji yang membutuhkan waktu 10 hingga 12 tahun.

Kini pengobatan infeksi zika dilakukan dengan istirahat, mendapatkan cairan yang cukup, dan antipiretik (parasetamol) seperlunya. Pemberian aspirin dan obat anti inflamasi non steroid tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan terjadinya kebocoran endotel vaskuler dan pendarahan.

Dalam tiga hingga lima hari, gejala klinis akan reda dan tidak meninggalkan bekas. Namun, pada ibu hamil, pantauan ultrasonografi masih perlu dilakukan karena defek anatomi kepala janin baru akan terjadi beberapa waktu setelah infeksi terjadi. Konfirmasi positif janin terinfeksi zika adalah hasil positif pada cairan ketuban yang diambil melalui amniosentesis (prosedur medis yang digunakan dalam diagnosis prenatal kelainan kromosom dan infeksi janin).

Hingga kini belum ada laporan khusus infeksi zika pada kehamilan di Indonesia. Namun, diperlukan perhatian khusus terkait hal tersebut, mengingat Indonesia adalah habitat dari nyamuk Aedes Aegypty yang merupakan pembawa virus, yang sangat memungkinkan penyebaran penyakit ini berlangsung dengan pesat.

Dengan deteksi dini, penyebaran virus ini diharapkan dapat dihindari.


DR. Dr. Wiku Andonotopo, Sp.OG K-Fetomaternal, Ph.D.,FMFM, Tim dokter spesialis obstetri dan ginekologi sub divisi fetomaternal Eka Hospital BSD
 


(DEV)