Cegah Pneumonia pada Bayi

Indriyani Astuti    •    Rabu, 23 Nov 2016 10:31 WIB
tips kesehatan
Cegah Pneumonia pada Bayi
(Foto: Baby Center)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyakit pneumonia pada bayi sangat berbahaya. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, akan mengakibatkan kematian. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan rata-rata ada 23 balita yang meningggal setiap jam di Indonesia dan 4 di antara mereka karena pneumonia. Pada 2015 terdapat 554.650 kasus pneumonia yang dilaporkan.

Dokter konsultan penyakit paru anak Cissy B Kartasasmita menyampaikan pneumonia merupakan infeksi akut yang menyerang paru-paru. Gejala pneumonia pada balita biasanya berupa batuk disertai sesak napas karena alveoli (saluran akhir dari alat pernapasan yang berupa gelembung-gelembung) yang menjadi tempat pengambilan oksigen dari udara tertutup oleh lendir.

"Anak sesak napas dengan napas cepat dan terengah-engah menandakan ia mencoba menarik oksigen lebih banyak, menyebabkan tarikan dinding dada ke dalam," ujarnya dalam diskusi Ngobrol Bareng Sahabat yang diadakan dalam rangka peringatan Hari Pneumonia Dunia 2016 di Jakarta, Kamis (17/11).

Pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu menuturkan, mayoritas kasus pneumonia disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae dan Haemofilus influenza tipe B.

"Streptococcus pneumoniae menyebabkan 50% kasus pneumonia. Sudah ada vaksinnya, tapi belum masuk program nasional imunisasi pemerintah," sambung Cissy.

Dikatakannya, bakteri Streptococcus pneumoniae paling banyak hidup di ujung nasofaring (pangkal tenggorok) tanpa menyebabkan gejala. Data menunjukkan, pada balita 10%-85% bakteri di nasofaring merupakan Streptococcus pneumoniae. Adapun pada orang dewasa sekitar 4%-45%.

"Pada anak sehat bakteri itu tidak mengganggu. Tapi kalau suatu hari pertahanan tubuh anak buruk dan saluran napas terganggu karena pengaruh dari lingkungan luar yang buruk, bakteri itu bisa berkembang lebih banyak dan pergi ke mana-mana, menyebabkan infeksi di telinga tengah, di darah, menyebabkan sinusitis, meningitis, dan penumonia," papar Cissy.

Pneumonia sangat mudah ditularkan melalui percikan dahak saat penderita batuk. Cissy menyampaikan ada sejumlah faktor risiko yang menyebabkan balita dapat tertular pnemonia. Di antaranya, imunisasi yang tidak lengkap, bayi yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif, anak yang mengidap HIV, dan balita dengan gizi buruk.

"Semua itu membuat sistem kekebalan tubuh pada anak menjadi rendah sehingga risiko terkena pnemonia semakin besar."Selain itu, ada juga faktor lingkungan yang dapat meningkatkan risiko balita terkena pnemonia, seperti tertular batuk atau influenza, polusi udara dalam ruangan, atau tinggal di rumah yang penuh sesak dan orangtua perokok.

Vaksin mahal

Pada kesempatan sama, Kasubdit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Dirjen Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Christina Widaningrum, menjelaskan pnemonia yang diakibatkan bakteri ataupun virus dapat diobati dengan antibiotik. Namun, pencegahan lebih diutamakan.

"Pencegahan pneumonia pada balita dimulai sejak masa kehamilan, ibu diimbau melakukan pemeriksaan minimal 4 kali selama kehamilan. Selain itu, pastikan bayi diberi ASI eksklusif dan asupan bergizi seimbang, serta mengurangi paparan polusi udara termasuk asap rokok," katanya.

Selain itu, imunisasi juga merupakan upaya preventif untuk mengurangi angka kematian yang diakibatkan pnemonia pada anak. Pemberian imunisasi Hib, campak, dan batuk rejan merupakan cara mudah dan murah untuk mencegah pneumonia.

"Imunisasi dasar lengkap dapat membantu mencegah pneumonia, terutama campak dan DPT. Vaksin pneumonia seperti PCV (pneumococcal conjugate vaccine) memang mempunyai daya proteksi tinggi untuk pneumonia. Hanya saja vaksin tersebut masih belum masuk alam program imunisasi nasional karena harganya terbilang mahal. Versi generik dari vaksin tersebut tengah dikembangkan," terang Christina.

Vaksin PCV saat ini dapat diperoleh masyarakat secara mandiri. Harganya berkisar Rp1 juta per dosis. Anak membutuhkan satu dosis vaksin dan satu dosis penguat (booster). Idealnya vaksinasi PCV dilakukan sebelum anak berusia 2 tahun, mengingat usia tersebut merupakan masa rentan anak tertular penumonia.

Christina menambahkan sebagian besar orangtua kurang memahami pneumonia sehingga kerap kali dianggap sebagai batuk biasa. Untuk membedakannya, kata Christina, lakukan hitung napas pada balita.

"Apabila ketika batuk anak mengalami napas cepat, sebaiknya ditangani cepat dan tepat."Untuk bayi berumur kurang dari 2 bulan, disebut mengalami napas cepat ketika dalam kondisi rileks/tidur ia bernapas 60 kali per menit. Adapun pada bayi usia 2 bulan sampai 12 bulan sekitar 50 kali per menit, dan umur 1-2 tahun sekitar 40 kali per menit.

"Jika menunjukkan gejala napas cepat, segera bawa anak ke dokter agar tidak jatuh ke kondisi yang lebih berat," pungkasnya.


(DEV)