Mengenal ADHD, Penyebab Hiperaktif pada Anak

Nia Deviyana    •    Rabu, 14 Sep 2016 10:39 WIB
kamus kesehatan
Mengenal ADHD, Penyebab Hiperaktif pada Anak
(Foto: Medicalnewstoday)

Metrotvnews.com, Jakarta: Attention Deficit Hyperactyvity Disorder (ADHD) atau dikenal dengan hiperaktivitas memengaruhi jutaan anak di seluruh dunia.

Dr. Leonardi Goenawan, Sp. KJ, Spesialis Kesehatan Jiwa RS Pondok Indah – Puri Indah memberi paparan terkait penyakit ini.

ADHD merupakan sebuah gangguan di otak yang ditandai dengan gangguan atensi (fokus), dan hiperaktivitas-impulsivitas yang berdampak pada kinerja sehari-hari dan proses tumbuh kembang.

Bagaimana ciri anak dengan ADHD?

1. Pada anak-anak usia pra-sekolah, gejala yang umum adalah hiperaktivitas. Selain itu adalah inatensi atau gangguan fokus. Hal ini ditandai dengan ceroboh atau melewatkan detail-detail pekerjaan.

Anak-anak yang tidak mengidap ADHD ada juga yang mengalami inatensi, namun pada ADHD, yang dialami lebih parah dan lebih sering muncul mengganggu kualitas interaksi sosial.

2. Kesulitan mempertahankan perhatian dalam tugas dan pekerjaan. Ditandai dengan tidak menyimak, mudah terdistraksi dan teralihkan.

3. Kesulitan dalam mengorganisasikan tugas dan aktivitas.

4. Menghindari atau tidak suka dengan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.

5. Menghindari atau tidak suka dengan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.

6. Mudah lupa terhadap hal-hal penting dalam pengerjaan tugas.

7. Hiperaktivitas-impulsivitas, ditandai dengan tidak mampu duduk dengan tenang, berlarian di kelas dan tampak gelisah, tidak mampu bermain dengan tenang, secara konstan terus bergerak, tidak berhenti bicara, sulit menunggu giliran, senang menginterupsi atau mengganggu orang lain (misalnya dalam permainan atau pembicaraan).

Faktor risiko ADHD

* Gen
* Kebiasaan merokok, minum alkohol, dan penyalahgunaan zat saat kehamilan.
* Terpapar racun dari lingkungan saat sedang hamil/saat ibu masih berusia muda.
* Berat badan lahir anak rendah
* Cedera otak


Bagaimana prevalensi ADHD?

Gangguan ADHD lebih banyak menyerang anak laki-laki daripada perempuan. Pada perempuan, lebih banyak terjadi gangguan atensi.

Dalam wawancara Metrotvnews.com bersama Dr. Melly Budhiman, SpKJ, psikiater anak dari Rumah Sakit MMC beberapa waktu lalu juga dikatakan, gangguan perkembangan mental seperti ADHD dan autisme memang lebih banyak menyerang laki-laki. Ada penelitian, perempuan dilindungi estrogen sehingga jarang ada yang terkena. (Baca: Ketegaran Membesarkan 'Si Anak Spesial')


Apakah ADHD berkaitan dengan gangguan spektrum autisme?

Pada DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) IV, dinyatakan seseorang tidak dapat secara bersamaan mengalami gangguan autism dan ADHD. Namun pada DSM V, dimungkinkan seseorang mengalami kedua gangguan sekaligus.

Apakah ADHD bisa berlangsung hingga dewasa?

Ya, menurut statistik, hampir setengah penderita akan membawa gangguan ini hingga dewasa.

Bagaimana proses diagnosis ADHD

Mendiagnosis ADHD membutuhkan evaluasi yang komprehensif oleh klinisi (psikiater anak dan remaja, dokter spesialis anak atau psikolog anak) yang berkompetensi dan memiliki keahlian di bidang ilmu kedokteran dan tumbuh kembang anak.

Ada langkah penanganan untuk anak ADHD, sekalipun ADHD tidak dapat disembuhkan. Namun, dengan pengobatan yang ada, kita bisa mengurangi gejala untuk meningkatkan kemampuannya di sekolah atau bidang pekerjaan.

ADHD dapat diterapi dengan medikasi (obat-obatan), psikoterapi, psiko-edukasi, latihan-latihan perilaku atau kombinasi dari terapi-terapi tersebut.

(Baca: Olahraga Membuat Tingkat Stres Penderita ADHD Berkurang)

Medikasi

Medikasi yang umum digunakan adalah dengan stimulan untuk meningkatkan zat kimia dopamin dan norepinefrin di otak, yang memiliki peran penting untuk berpikir dan mendapat fokus.

Non stimulan juga dapat digunakan, tetapi efeknya baru terlihat setelah digunakan agak lama. Obat ini biasanya diberikan apabila penderita ADHD tidak bisa menggunakan stimulan lantaran efek sampingnya yang mengganggu.

Psikoterapi

Penderita ADHD akan diajak untuk berbagi cerita, misalnya kesulitan mereka dalam mengatasi gejala-gejala ADHD dan mencari cara untuk mengatasi gejala. Psikoterapi meliputi terapi perilaku guna menolong penderita dalam mengubah kebiasaannya.

Saat menjalani psikoterapi, dibutuhkan caregiver yang dapat membantu mengorganisasikan tugas, atau membantu mengatasi masalah emosional saat penderita berada di situasi sulit.




(DEV)