Metode Cuci Darah dengan Peritoneal Dialisis (PD) bagi Anak Gagal Ginjal Kronik

   •    Jumat, 04 Aug 2017 07:00 WIB
kesehatan ginjal
Metode Cuci Darah dengan Peritoneal Dialisis (PD) bagi Anak Gagal Ginjal Kronik
Bagi anak Gagal Ginjal Kronik (GGK) di tahap 5, atau biasa disebut dengan penderita ESRD (End Stage Renal Disease), metode cuci darah dengan Peritoneal Dialisis (PD) bisa menjadi pilihan. (Foto: Shutterstock/Parents.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi anak Gagal Ginjal Kronik (GGK) di tahap 5, atau biasa disebut dengan penderita ESRD (End Stage Renal Disease), metode cuci darah dengan Peritoneal Dialisis (PD) bisa menjadi pilihan perawatan yang tepat. 

"Metode PD bekerja dengan membersihkan racun dalam darah dan membuang cairan berlebih menggunakan membran pada tubuh, yaitu peritoneal membran (lapisan pada perut), sebagai penyaring racun," tulis rilis Peritoneal Dialisis: Membantu Anak Indonesia Yang Sakit Ginjal untuk Menjalani Hidup yang Fleksibel dan Independen yang diterima oleh Metrotvnews.com.

Membran peritoneal menyaring racun serta cairan dari darah melalui cairan. Cairan yang mengandung racun akan dikeringkan dari rongga peritoneal setelah beberapa jam dan berganti dengan cairan baru. Ini disebut pergantian. 

"Pada umumnya pasien membutuhkan 3-4 kali pergantian di setiap hari dengan waktu selama 30 menit. Pada saat proses penggantian, pasien dapat menjalani aktivitas dengan normal," terang rilis lagi.

Dibandingkan dengan Hemodialisis (HD), Peritoneal Dialisis (PD) memiliki beberapa kelebihan yang memberikan keleluasaan pada pasien anak-anak untuk mengatur jadwal cuci darah, meliputi:



(Baca juga: Batu Ginjal Bisa Berujung Gagal Ginjal)

1. Anak-anak harus pergi ke sekolah dan pergi ke rumah sakit 2 kali seminggu akan mengganggu jadwal sekolah. Dengan PD, anak-anak menjadi lebih mudah untuk menyesuaikan jadwal terapi dengan jadwal sekolah maupun aktivitas lainnya, karena pasien berhak penuh terhadap terapinya.

2. Anak-anak dengan perawatan PD dapat bermain dan berolahraga dibawah rekomendasi dokter serta mereka dapat memiliki waktu yang fleksibel dalam melakukan beragam aktivitas.

3. Anak-anak menikmati fleksibilitas dan kebebasan yang diberikan perawatan PD untuk memaksimalkan waktu yang mereka punya
 
“Metode PD merupakan pilihan banyak pasien ESRD anak-anak di beberapa negara Eropa dan penggunaannya terus menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. PD dapat digunakan untuk pasien anak-anak usia berapa pun untuk mendapatkan perawatan dengan baik dalam menunggu tujuan utama perawatan yaitu transplantasi ginjal”, jelas Dr. Cahyani.

Salah satu ibu yang memiliki putra dengan ESRD, Ibu Indri mengatakan bahwa Ia memilih metode PD, yaitu metode cuci darah yang terbukti dapat memberikan keleluasaan bagi pasien untuk melakukan dialisis di rumah. 

“Dengan perawatan PD, putra saya tetap bisa ke sekolah, bermain dengan teman-temannya, dan bersosialisasi. Menjalani perawatan PD tidak dijadikan beban bagi putranya. Bahkan anak saya sudah bisa melakukan perawatan PD sendiri,” papar Ibu Indri.

“Ini merupakan tugas orangtua untuk memberikan perawatan terbaik bagi anak-anak kita, membesarkannya dan menjadikan mereka sukses. Jadi kita harus gigih dan disiplin,” lanjut Ibu Indri.

“Aku bercita-cita suatu hari nanti aku bisa sekolah di luar negeri dan menjadi seorang pilot. Dengan perawatan PD, aku bisa mengatur waktu lebih baik. Aku harap suatu hari nanti cita-citaku bisa terwujud,” ucap Aliefka, putra ibu Indri.









(TIN)