Metode Endoskopi, Solusi Bagi Penderita Saraf Kejepit yang Takut Operasi

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 13 Sep 2017 10:18 WIB
kesehatan
Metode Endoskopi, Solusi Bagi Penderita Saraf Kejepit yang Takut Operasi
(Foto: Healthline)

Metrotvnews.com, Jakarta: Saraf kejepit adalah salah satu gangguan saraf yang dapat disembuhkan dengan metode invasif atau operasi. Sayangnya, banyak penderita yang takut melakukan pengobatan tersebut.

Herniasi Nuklrus Pulposus (HNP) atau lebih dikenal dengan saraf kejepit terjadi karena adanya penonjolan inti bantalan tulang (diskus) pada bagian tulang belakang, sehingga menekan saraf pada area tersebut. Akibatnya, penderita merasakan nyeri yang luar biasa disertai dengan gangguan-gangguan lain yang membuat produktivitas menurun.

Terdapat dua jenis pengobatan yang bisa dilakukan, yaitu secara konservatif dan operatif. Pada pengobatan konservatif, umumnya hanya pemberian obat dan fisioterapi bila penderita masih berada pada tahap awal penyakit.

Sementara, pengobatan invasi dibagi menjadi dua, yaitu operasi konvensional dan minimal invasif.

"Operasi konvensional atau laminektomi adalah operasi pemotongan tulang lamina yang dilakukan pada belakang pinggang, dengan waktu yang dibutuhkn sekitar 2-3 jam dengan risiko kegagalan 30-40 persen," terang dr Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Jakarta Pain & Spine Center dalam temu media, Selasa (12/9/2017).

Risiko yang cukup besar tersebut disebabkan karena berbagai faktor, seperti struktur tulang yang rusak karena membuka beberapa lapisan yaitu kulit, otot tulang, ligamen, dan tulang itu sendiri untuk menemukan bantalan tulang. Selain itu, adanya kemungkinan perlengketan menyebabkan tulang melemah dan ligamen tak menyatu secara sempurna. Risiko terjadinya infeksi pada luka juga cukup besar karean sayabtan yang besar dan waktu pemulihan yang cukup lama, sekitar satu bulan.

Selanjutnya, ada metode minimal invasif yang dikenal dengan endoskopi. Lebih spesifik, metode yang terbaru adalah Percutaneous Endoscopic Lumbar Disectomy (PELD) yang masuk di awal tahun ini ke Indonesia.

"Metode ini menghilangkan rasa nyeri dengan cara mengambil bantalan tulang yang terjepit. Sayatan yang dilakukan tak lebuh dari 1 cm, sekitar 7 mm saja," tambah dr Mahdian.

Ia menambahkan, metode tersebut disebut juga dengan stitch less surgery karena tidak membutuhkan jahitan setelah prosedur selama 45 menit tersebut dilakukan.

Pengobatan tersebut juga hampir tak memiliki kontraindikasi pada penderita yang normal, dimana tak ada riwayat penyakit tertentu seperti jantung atau gula darah tinggi.

Berbeda dengan teknik konvensiobal, PELD tidak melakukan pemotongan tulang yang berfungsi sebagai penyangga tulang tersebut. Oleh karena itu, tingkat instabilitas dan kekuatan tulang cebderung tak mengalami gangguan.

Dari segi pemulihan, PELD jauh lebih cepat dimana penderita dapat beraktivitas normal kembali setelah 1-2 minggu beristirahat dengan masa perawatan sekitar 12- hari saja.

Bagi Anda yang memiliki gangguan saraf kejepit dan ingin mencoba pengobatan PELD, biaya untuk perawatan tersebut diperkirakan sekitar Rp 70-120 juta.




(DEV)