Dalam 10 Tahun, Sampah Plastik Meningkat 5 Persen

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 06 Jun 2018 08:00 WIB
lingkungan
Dalam 10 Tahun, Sampah Plastik Meningkat 5 Persen
Diperlukan peran dari produsen dan publik untuk bisa menyukseskan pengelolaan hulu dalam pengelolaan sampah. (Foto: Bas Emmen/Unsplash.com)

Jakarta: Terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam 10 tahun terakhir di mana komposisi sampah plastik mengalami peningkatan dari 11 menjadi 16 persen dari 2005 hingga 2016. 

Novrizal Tahar selaku Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mengungkapkan bahwa kondisi tesebut mengkhawatirkan. 

"Ini perlu menjadi perhatian, terutama di kota-kota besar yang bisa mencapai 17 persen," tukasnya dalam peluncuran gerakan Danone-AQUA #BijakBerplastik, Selasa 5 Juni 2018.

Melihat hal tersebut, menurutnya diperlukan sistem pengelolaan sampah yang berasal dari hulu ke hilir. Artinya dari dari sampah dilahirkan hingga sampah dikuburkan. Segala aspek terbit harus diprioritaskan. 

(Baca juga: Mendagri: Pengelolaan Sampah Jakarta 'Mbulet')


(Terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam 10 tahun terakhir di mana komposisi sampah plastik mengalami peningkatan dari 11 menjadi 16 persen dari 2005 hingga 2016. Foto: Paul Baden/Unsplash.com)

Lebih detail, Novrizal mengungkapkan bahwa diperlukan peran dari produsen dan publik untuk bisa menyukseskan pengelolaan hulu. Apalagi, sudah ada Peraturan Presiden (Perpres) 35 tahun 2018 tentang percepatan Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Sampah untuk mendukung pengelolaan sampah 100 persen pada 2025. 

"Targetnya adalah pengurangan sampah 30 persen, 70 persen penanganan."

Ia menambahkan, 30 persen tersebut adalah bagian hulu, di mana salah satu program yang sudah dicanangkan adalah 3R yaitu reduce (pengurangan), reuse (penggunaan ulang), dan recycle (daur ulang). 

Saat ini, target pengunaan baru mencapai 2,12 persen. Angka yang masih kecil tersebut membutuhkan terobosan besar untuk dorong perubahan perilaku publik dan perlunya insipirasi yang bisa kolaborasi, tambahnya. 

"Ini membutuhkan kerjasama dari sisi produsen dan masyarakat," pungkasnya. 





(TIN)