Ini Alasan Kenapa Membaca Baik untuk Otak

Raka Lestari    •    Minggu, 24 Dec 2017 10:16 WIB
studi kesehatan
Ini Alasan Kenapa Membaca Baik untuk Otak
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Membaca dapat meningkatkan perasaan bahagia dalam kehidupan sehari-hari, menunda kepikunan, dan bahkan dapat membantu Anda hidup lebih lama. 

Pada 1992, University of Michigan Health and Retirement Study (HRS) melakukan sebuah survey kecil-kecilan terhadap lebih dari 20 ribu pensiunan dan melakukan analisis terhadap kesehatan otak pada orang-orang tua.

Kemudian pada 2016, para peneliti di Yale School of Public Health menggali kembali data-data dari HRS tentang hubungan antara kebiasaan membaca dan kesehatan lebih dari 3.600 pria dan wanita berusia di atas 50 tahun. 

Hasilnya adalah Orang yang membaca buku-fiksi atau nonfiksi, puisi atau prosa - selama 30 menit sehari selama beberapa tahun rata-rata hidup dua tahun lebih lama dari orang-orang yang sama sekali tidak membaca apa-apa. Terlebih lagi, orang yang membaca buku selama tiga jam setiap minggunya memiliki kemungkinan 23 persen lebih kecil untuk meninggal daripada teman sebayanya yang hanya membaca koran atau majalah. 

Dilansir dari Reader's Digest, anak-anak berusia enam bulan disarankan membaca buku bersama orang tua mereka beberapa kali dalam seminggu menunjukkan kemampuan aksara dan kosakata yang lebih kuat empat tahun kemudian, mendapat nilai lebih tinggi pada tes kecerdasan, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada yang tidak membaca bersama orang tuanya. 

Namun, penelitian terbaru berpendapat bahwa membaca mungkin sama pentingnya bagi orang  dewasa. Bila dipraktekkan selama seumur hidup, keterampilan membaca dan kemampuan berbahasa Inggris dapat mendukung fungsi otak yang sehat dengan cara yang besar. Sederhananya: Kekuatan kata-kata dapat meningkatkan kekuatan otak.

Saat Anda membaca, otak Anda akan membuka jalur baru antar daerah di keempat lobus dan kedua belahan otak. Seiring berjalannya waktu, jaringan saraf ini dapat mendorong pemikiran yang lebih cepat dan dapat memberikan pertahanan yang lebih besar melawan efek terburuk dari kerusakan kognitif.




(DEV)