Jakarta Dinobatkan Salah Satu Kota dengan Tingkat Stres Tinggi, Psikolog: Itu Lumrah

   •    Selasa, 07 Nov 2017 16:15 WIB
kesehatan mental
Jakarta Dinobatkan Salah Satu Kota dengan Tingkat Stres Tinggi, Psikolog: Itu Lumrah
Ilustrasi. Sejumlah kendaraan terjebak macet di kawasan Jalan MT Haryono menuju Tugu Pancoran, Jakarta. (Foto: ANTARA/ Makna Zaezar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perusahaan asal Inggris Zipjet merilis hasil survei peringkat kota dengan tingkat stres paling tinggi di Asia tahun 2017. Hasilnya, Kota Jakarta menempati posisi keenam dari 150 kota di dunia dalam daftar tersebut.

Ada sekitar 17 indikator yang dijadikan acuan. Di antaranya terkait dengan polusi, ruang terbuka hijau, kepuasan warga akan transportasi punblik, level kemacetan, tingkat kriminalitas hingga paparan sinar matahari per tahun.

Psikolog Klinis Ratih Ibrahim menyebut, stres merupakan hal lumrah yang bisa terjadi kapan saja dalam hidup manusia. Berkaca dari hasil survei tersebut secara umum stres memang dialami oleh seluruh penduduk kota-kota besar di dunia.

"Kenapa? Karena intensitas kompetisinya juga tinggi. Dikatakan Jakarta urutan keenam, ada benarnya. Kemacetan, pergerakan yang sangat dinamis, ruang hidup yang semakin sempit, itu semua spek yang berpengaruh terhadap level stres seseorang," katanya, dalam Metro Siang, Selasa 7 November 2017.

Ratih mengatakan pada dasarnya Jakarta sama dengan wilayah kota-kota besar lainnnya. Merujuk pada tulisan The World is Flat, kata Dia, semakin lama wajah kota besar akan semakin sama.

Kesamaan tersebut berkaitan dengan wilayah yang semakin datar, padat, ramai, lingkungan gerak yang semakin sempit juga membuat orang lebih rentan terkena stres.

Di sisi lain, dinamika kehidupan yang sangat intens dengan persaingan yang begitu sengin membuat Kita bertemu dengan banyak sekali manusia dari seluruh dunia. Tuntutan kerja yang sangat tinggi pun salah satu faktor yang memicu stres.

"Jadi stres itu sebuah kondisi dimana seseorang mengalami ketegangan-ketegangan dalam dirinya. Kenapa? Karena dirinya mengalami konflik lantaran apa yang terjadi berbeda dengan ekspektasinya. Konflik ini bisa menimbulkan stres dari yang ringan sampai tinggi seperti gangguan perilaku, emosi, dan gangguan jiwa," jelasnya.




(MEL)