Alasan Mengapa Tidak Mau Menambah Anak Lagi

Yatin Suleha    •    Senin, 10 Oct 2016 16:59 WIB
kehamilan
Alasan Mengapa Tidak Mau Menambah Anak Lagi
Orangtua juga dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang terkait akan kemungkinan untuk hamil kembali. (Foto: Babycenter)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi seorang ibu yang cukup trauma pada kehamilan pertamanya, mungkin hamil lagi menjadi momok baginya. Ditambah lagi juga pernah mengalami baby blues pasca lahir.

Lalu apa biasanya alasan yang membuat seorang ibu tak mau menambah anak lagi?
Woro Kurnianingrum, M.Psi. Psikolog anak dan remaja, dari RSIA St. Carolus Summarecon Serpong menerangkan, "Biasanya karena pengalaman tidak menyenangkan pada kehamilan sebelumnya. Misalnya secara fisik, si ibu kesulitan untuk makan, muntah-muntah yang berkepanjangan, sakit punggung atau pinggang yang mengganggu aktivitas sehari-hari."

Woro juga menerangkan selain pengalaman tidak menyenangkan ada juga trauma secara psikis, seperti kehilangan orang terdekat ketika masa kehamilan, suami kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. 

Kendala atau masalah pada proses persalinan, faktor keuangan keluarga, faktor usia ibu, kesehatan (risiko untuk kehamilan berikutnya), masalah pembagian peran dan pengasuhan pada anak pertama yang telah menyita waktu, perjuangan panjang untuk memperoleh anak pertama setelah perkawinan bertahun-tahun (mengikuti program hormon, bayi tabung, dan lainnya), serta prinsip atau pandangan suami-istri yang menganggap mempunyai satu anak cukup, juga bisa menambah deretan alasan mengapa seseorang enggan memiliki momongan lagi.

Lalu, bagaimana menyikapinya?
Bagi ibu yang memiliki trauma atau pengalaman kurang menyenangkan dengan kehamilannya atau proses kelahiran terdahulu, ada baiknya saran Woro untuk dapat membicarakannya dengan pasangan atau keluarga. Dalam hal ini mengungkapkan pikiran dan perasaan yang mengganggu untuk mempunyai anak kedua. 

Setelah memperoleh dukungan keluarga, ia menambahkan si ibu dapat membekali diri dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang permasalahan yang terjadi pada kehamilan atau persalinan terdahulu. Dengan begitu, meminimalkan risiko untuk terulang permasalahan yang sama. 

(Baca juga: Ciri-Ciri Kandungan Sehat)

"Orangtua juga dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang terkait akan kemungkinan untuk hamil kembali, apa saja yang perlu dipersiapkan," ujar Woro.

Rasa trauma pada seseorang
Woro menerangkan bahwa perasaan trauma pada setiap orang dapat berbeda-beda jangka waktunya. Ada yang hanya sebentar, tetapi ada juga yang bertahan lama, atau malah menetap sepanjang hidupnya. 

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: pola pikir, daya juang pribadi, dukungan keluarga atau lingkungan. Jika trauma masih meliputi diri si ibu, kemungkinannya ia akan tetap pada kondisi yang membuatnya nyaman, yakni dengan mempunyai satu anak saja. 

Sedangkan apabila terjadi kehamilan dengan kondisi si ibu masih trauma, maka kemungkinannya si ibu dapat menjalani masa kehamilannya dengan perasaan berat, penuh kekhawatiran, dan tidak nyaman. 

Dengan kondisi seperti itu, ibu bisa jadi kurang memperhatikan janinnya dan kurang terjalin kontak batin antara ibu dan anak (yang dikandungnya). 






(TIN)