Peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2016 Fokus Pada Katarak dan Refraksi

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 07 Oct 2016 18:01 WIB
kesehatan mata
Peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2016 Fokus Pada Katarak dan Refraksi
Menkes Nila F. Moeloek mengatakan tahun ini difokuskan pada penyakit katarak dan refraksi (gangguan penglihatan mata yang berhubungan dengan penggunaan kacamata). (Foto: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 9 Oktober kembali diperingati dengan berfokus pada masalah kebutaan dengan tema Solid dan Sinergi Mencegah Kebutaan.

Data Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2010 menunjukkan bahwa 4,25 persen (285 juta jiwa) dari seluruh penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dengan rincian 14 persen (39 juta jiwa) mengalami kebutaan, dan 86 persen (246 juta) mengalami low vision.

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, angka kebutaan nasional yang dilakukan pada 7 provinsi (selanjutnya akan diselesaikan hingga 15 provinsi) telah mengalami peningkatan dari tahun 1956 yang sebesar 1,5 persen menjadi 2,4 persen saat beberapa tahun lalu dilakukan.

"Bahkan, ada satu daerah yang mencapai 4 persen. Padahal Vision 2020 menargetkan 0,5 persen," ujarnya dalam konfrensi pers Hari Penglihatan Dunia 2016, Jumat (7/10/2016).

(Baca juga: Trik Mengatasi Mata Lelah Usai Bekerja di Depan Komputer)

Vision 2020 adalah inisatif global dari WHO untuk menghilangkan kebutaan yang bisa dihindari pada tahun 2020. Program ini sudah dilakukan sejak tahun 1996 dan diikuti oleh lebih dari 20 organisasi internasional untuk menjalankan visi tersebut.

Nila menambahkan, tahun ini difokuskan pada penyakit katarak dan refraksi (gangguan penglihatan mata yang berhubungan dengan penggunaan kacamata). Target untuk kedua penyakit ini untuk semua jenis usia, namun beberapa kalangan mendapat perhatian khusus, yaitu katarak pada orangtua yang berusia di atas 50 tahun, sementara refraksi difokuskan pada anak-anak.

"Kebanyakan dari mereka yang mengalami katarak di Indonesia berusia minimal 45 tahun, sementara di luar negeri pada usia 60 tahun," terang Wakil Ketua Komisi Mata Nasional Dr. Aldianan Halim, SpM(K), pada kesempatan yang sama.

Hal ini dikarenakan negara Indonesia, yang notabene negara tropis, mendapatkan pancaran sinar ultraviolet (UV) lebih banyak sehingga memengaruhi daya tangkap mata. Selain itu, terkait global warming, lapisan ozon bumi pun menjadi bolong dan semakin memudahkan masuknya sinar UV secara langsung ke manusia.

Selain itu, dr. Aldi juga mengungkapkan adanya tren demografi saat ini yang menunjukkan adanya peningkatan 2 kali lipat jumlah penduduk berusia lanjut, karena meningkatnya angka harapan hidup dari 68 tahun menjadi 78 tahun, turut memberi pengaruh pada kesehatan mata katarak yang diperkirakan jumlahnya juga akan meningkat.

"Sejauh ini dilihat jumlah penderita gangguan penglihatan, lebih didominasi oleh wanita, dua kali lipat daripada pria. Namun untuk katarak, lebih banyak pria yang melakukan operasi di rumah sakit, sementara untuk bakti sosial katarak masih seimbang," tambahnya.

Untuk refraksi, Menkes mengungkapkan bahwa penggunaan kacamata sejak kecil menjadi perhatian, karena data WHO menyebutkan bahwa tahun 2006, 13 juta dari 153 penderita refraksi adalah anak-anak berusia 5-15 tahun.

"Sebagai orangtua, sebaiknya memperhatikan kebutuhan anak dimana nilai yang jelek bukan berarti anak tidak pintar, tapi bisa saja karena ada gangguan penglihatan," pungkasnya. 






(TIN)