Studi: Pil Kontrasepsi Tingkatkan Risiko Depresi

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 01 Oct 2016 17:16 WIB
kesehatan
Studi: Pil Kontrasepsi Tingkatkan Risiko Depresi
Studi: Pil Kontrasepsi Tingkatkan Risiko Depresi (Foto: news.com.au)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi mengungkapkan bahwa mengonsumsi pil kontrasepsi dapat meningkatkan risiko depresi.

Data dari lebih dari satu juta wanita Denmark menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi pil tersebut 23 persen kemungkinan juga menggunakan antidepresan.

Tambalan kontrasepsi yang terbuat dari sintetis tersebut memengaruhi hormon progesterone sehingga meningkatkan risiko ganda, sementara penggunaan cincin dan spiral meningkat hingga 60 persen dan 40 persen.

Remaja yang menggunakan pil KB tampaknya lebih rentan mengalami depresi dibandingkan mereka yang lebih tua. Para ilmuwan menduga hal tersebut berkaitan dengan hormon pregosteron yang terbukti memberi efek negatif pada suasana hati selama haid.

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memeriksa depresi sebagai efek negatif dari penggunaan kontrasepsi hormonal," kata pemimpin peneliti Dr Øjvind Lidegaard, dari University of Copenhagen, menulis dalam jurnal Jama Psychiatry.

Studi tersebut menganalisa data warga negara Denmark yang berusia 15-34 tahun. Selama masa penelitian yang berlangsung enam tahun, para partisipan menggunakan kontrasepsi oral kombinasi yang mengandung campuran hormon.

Pengguna pil progestin progesteron sintetis memiliki peningkatan risiko sebesar 34 persen. Sementara yang menggunakan tambalan progestin memiliki risiko dua kali lipat.

Untuk remaja berusia 15-19 tahun, penggunaan pil KB kombinasi dapat meningkatkan 80 persen peresapan obat antidepresan.

Para peneliti mengungkapkan bahwa progesteron dan hormon seks wanita esterogen turut berperan dalam memunculkan depresi. Progesteron yang memecah bahan kimia atau metabolik, terbuksti memberi hambatan dalam hal sistem saraf pusat.

Sementara tingkat metabolisme juga meningkat setelah masa ovulasi selama siklus haid dan beberapa wanita mengalami suasana hati yang buruk pada saat itu.

Penelitian mendukung teori yang menyatakan progesteron dapat menimbulkan depresi karena progesteron mendominasi gabungan dari kontrasepsi progestin tunggal.

 


(ELG)