6 Fakta Seputar Penyakit Lupus yang Diderita Selena Gomez

Nia Deviyana    •    Selasa, 19 Sep 2017 17:25 WIB
kamus kesehatan
6 Fakta Seputar Penyakit Lupus yang Diderita Selena Gomez
(Foto: Wenner Media)

Metrotvnews.com, Jakarta: Selena Gomez menjalani transplantasi ginjal sebagai bagian dari pengobatan penyakit lupus yang dideritanya sejak 2015.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang lupus dan mengapa komplikasi penyakit kronik ini dapat menyebabkan gagal ginjal, berikut beberapa fakta lupus yang harus Anda ketahui seperti dilansir dari Time.

1. Lupus berpengaruh terhadap seluruh tubuh

Sekitar 1,5 juta orang Amerika menderita lupus, penyakit autoimun yang menyebabkan tubuh menyerang jaringannya sendiri.

"Sistem kekebalan tubuh seharusnya melawan infeksi, tetapi pada penderita lupus, sistem imun juga menyerang sel-sel yang sehat," ujar Dr Gary Gilkeson, profesor kedokteran di Medical University of South California.

Setengah dari penderita mengidap lupus eritematosus sistemik, jenis lupus paling umum yang menyerang  jantung, paru-paru, otak, dan ginjal. "Yang paling sering ginjal karena protein autoimun tersimpan di sana. Seiring berjalan waktu, menyebabkan gagal ginjal," jelas Gary.

2. Gejala lupus sangat bervariasi

Lupus dapat bermanifestasi dalam berbagai cara dan memengaruhi banyak organ yang berbeda. Gejalanya pun sangat bervariasi pada setiap orang sehingga sangat sulit dideteksi.

Gejala paling umum termasuk kelelahan, nyeri sendi, pembengkakan, ruam, dan demam seringkali disalahartikan dengan kondisi kesehatan lain sehingga penderita terlambat mendapat pertolongan.

Sayangnya, juga tak ada tes laboratorium untuk lupus. Studi tahun 2015 yang dipublikasikan Annals of Rheumatic Disease menunjukkan, butuh waktu hampir enam tahun bagi pasien untuk mendapatkan diagnosa yang akurat.

3. Gender dan etnis berperan

Lebih dari 90 persen kasus lupus terjadi pada wanita, terutama dari ras Hispanik dan Afrika dibandingkan pada kulit putih. Berdasarkan data Lupus Foundation of Africa, kebanyakan dari mereka mengalami gejala antara usia 15-44 tahun.

Lupus juga bisa diturunkan melalui genetik. Sekitar 20 persen penderita memiliki orang tua atau saudara yang menderita penyakit ini.

4. Pengobatan lupus termasuk pengobatan nyeri dan kemoterapi

Bergantung pada gejala dan tingkat keparahan penyakit, beberapa pasien bisa hanya dengan mengonsumsi pereda nyeri atau obat anti-inflamasi. Sementara yang lain, ada yang membutuhkan imunosupresan, bahkan kemoterapi untuk mengobati penyakitnya.

Dengan perawatan tepat, 80 sampai 90 persen pasien dapat menjalani hidup normal.

5. Transplantasi ginjal adalah kabar baik

Lupus dapat merusak ginjal. Namun, jika dokter menyerankan transplantasi ginjal, artinya kondisi pasien dalam keadaan baik. Sebab, jika tidak, percuma dilakukan transplantasi karena penyakit akan kembali merusak ginjal.

"Bila lupus terkendali, sebagian besar transplantasi ginjal akan berhasil, terutama jika pasien mendapat organ dari donor hidup," terang Dr Robert Montgomery, Direktur Transplant Institute di NYU Langone Health.

Setelah transplantasi ginjal, pasien harus mengonsumsi imunosupresan yang tidak hanya berfungsi melindungi organ baru, tetapi juga memanajemen lupus agar selalu terkontrol.

6. Pemulihan transplantasi tergolong cepat

Biasanya pasien memerlukan waktu sekitar 6 minggu jika ingin bekerja normal pascaoperasi. Sementara bagi pendonor bisa lebih cepat.




(DEV)