Studi: Trauma Masa Kecil Dapat Memicu Masalah Fisik Saat Dewasa

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 11 May 2018 11:18 WIB
kesehatan
Studi: Trauma Masa Kecil Dapat Memicu Masalah Fisik Saat Dewasa
Penelitian ini menemukan bahwa trauma di fase kehidupan awal berujung pada masalah suasana hati dan tidur saat dewasa, artinya mereka merasakan sakit lebih parah yang dapat mengganggu. (Foto: Artem Bali/Unsplash.com)

Jakarta: Apakah Anda ingin si kecil tumbuh dengan bahagia? Jika ya, pastikan mereka tak mengalami trauma saat kecil. Sebuah penelitian menemukan bahwa trauma saat kecil dapat memicu sakit fisik saat dewasa. 

Penemuan yang dipublikasi dalam Journal of Behavioural Medicine menemukan bahwa trauma atau kesulitan saat kecil atau remaja berhubungan dengan suasana hati atau masalah tidur di usia dewasa. 

"Penelitian ini menemukan bahwa trauma di fase kehidupan awal berujung pada masalah suasana hati dan tidur saat dewasa, artinya mereka merasakan sakit lebih parah yang dapat mengganggu mereka," ujar asisten peneliti Ambika Mathur dari Pennsylvania State University.

Namun, hal tersebut cenderung minim pada mereka yang merasa lebih optimis dan dapat mengontrol hidup mereka. 

"Partisipan yang merasa lebih optimis atau bisa mengontrol hidup mereka kemungkinan merasa lebih baik saat bangun tidur walau saat sedang sakit, tapi mereka entah bagaimana berusaha agar hal itu tak mengganggu mereka," tukasnya. 


(Penemuan yang dipublikasi dalam Journal of Behavioural Medicine menemukan bahwa trauma atau kesulitan saat kecil atau remaja berhubungan dengan suasana hati atau masalah tidur di usia dewasa. Foto: Héctor Martínez/Unsplash.com)

(Baca juga: Benarkah Sikap Positif Bisa Bikin Awet Muda?)

Temuan tersebut berdasarkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan antara rasa sakit fisik orang dewasa dengan trauma atau kemalangan di awal kehidupan mereka, seperti penyalahgunaan atau penelantaran, penyakit berat, masalah keuangan, atau kehilangan orang tua.

Untuk penelitian tersebut, para peneliti merekrut kelompok dari 265 peserta yang melaporkan beberapa bentuk kesulitan dalam kehidupan awal para partisipan.

Mereka menjawab berbagai pertanyaan tentang masa kecil atau kesulitan remaja, suasana hati saat ini, gangguan tidur, optimisme, bagaimana mengendalikan hidup mereka, dan apakah mereka baru-baru ini merasakan sakit.

Para peneliti juga mencari tahu bagaimana optimisme atau perasaan positif dalam kendali diri mereka dapat memengaruhi seberapa banyak rasa sakit yang dialami oleh seseorang.

Mereka menemukan bahwa meskipun ketahanan tak memiliki hubungan yang kuat terhadap masalah tidur atau sakit dengan gangguan produktivtas, ketahanan tidak memengaruhi intensitas rasa sakit.




(TIN)