Peneliti Temukan Metode Pengobatan Alergi Makanan pada Anak

Anggi Tondi Martaon    •    Selasa, 19 Dec 2017 11:41 WIB
alergi
Peneliti Temukan Metode Pengobatan Alergi Makanan pada Anak
Sebuah penelitian yang dilakukan di Stanford University School of Medicine menemukan metode pengobatan untuk menghilangkan alergi makanan pada anak. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Sebuah penelitian yang dilakukan di Stanford University School of Medicine menemukan metode pengobatan untuk menghilangkan alergi makanan pada anak. Metode pengobatan yang dimaksud yaitu meminum obat omalizumab asma (Xolair) dengan imunoterapi.

Imunoterapi yaitu memberikan asupan makanan yang dapat memicu reaksi alergi. Kadarnya pun ditingkatkan secara bertahap hingga alergi tidak muncul kembali saat mengonsumsi makanan tersebut.

"Mengunakan omalizumab tampaknya mempercepat proses desensitisasi tanpa mengorbankan keamanan," kata penulis senior studi Dr Sharon Chinthrajah saat dikutip dari WebMD.com.

Peneliti pun mencoba metode pengobatan tersebut kepada 48 anak-anak yang menderita alergi beberapa jenis makanan, yaitu kacang almond, kacang mete, telur, hazelnut, susu, kacang tanah, wijen, kedelai, kenari, dan gandum. 


(Sebuah penelitian yang dilakukan di Stanford University School of Medicine menemukan metode pengobatan untuk menghilangkan alergi makanan pada anak. Foto: Pixabay.com)

(Baca juga: Pentingnya Mengenali Gejala Alergi Pada Anak)

Awalnya peneliti meminta peserta untuk mengonsumsi omalizumab selama delapan minggu sebelum imunoterapi diterapkan. Selanjutnya, peneliti mulai menerapkan metode pengobatan gabungan kepada peserta selama delapan minggu. Selanjutnya, peserta kemudian melanjutkan imunoterapi tanpa obat tersebut selama 20 minggu tambahan.

Hasilnya, peneliti menyimpulkan bahwa omalizumab dan imunoterapi secara signifikan mengatasi alergi makanan. Selain itu, metode pengobatan ini tidak menimbulkan efek samping kepada peserta.

"Omalizumab dapat membantu mengubah cara terapi dengan membuatnya lebih aman dan lebih cepat," kata Dr Kari Nadeau yang merupakan bagian dari tim peneliti.

Meskipun begitu, tim peneliti mengaku bahwa penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengonfirmasi berbagai temuan sebelum diterapkan dalam perawatan medis.










(TIN)