7 Hal tentang Autisme Patut Anda Ketahui

Anindya Legia Putri    •    Selasa, 09 Jan 2018 14:43 WIB
autismeautis hari autis internasional
7 Hal tentang Autisme Patut Anda Ketahui
Ilustrasi. Shutterstock

Jakarta: Lebih dari 3,5 juta orang dewasa dan anak-anak di Amerika Serikat memiliki Gangguan Spektrum Autistik (GSA). Menurut data Centre of Disease Control (CDC),  jumlah tersebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Seiring meningkatnya jumlah penderita, pengetahuan dan kesadaran akan autisme juga membaik. Namun, masih banyak kesalahan atau mitos yang belum diketahui berbagai pihak.

Di Indonesia, pada 2015 diperkirakan satu dari 250 anak mengalami ganguan spektrum autistik. Pada 2015 diperkirakan kurang lebih 12.800 anak mengalami autisme.

Ada tujuh hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang kelainan spektrum autisme, termasuk gejala, bagaimana anak didiagnosis, perawatan yang tersedia, dan hal lainnya, seperti dilansir health.com, Selasa, 9 Januari 2018.

1. Anak-anak bisa sangat mudah didiagnosis

Sangat memungkinkan anak-anak berusia 18 bulan untuk didiagnosis menderita gangguan spektrum autisme. Kebanyakan diagnosis pada usia 24 bulan atau lebih.

"Sebelum itu, anak-anak dengan autisme akan menunjukkan defisit dalam komunikasi sosial, tapi ini sesuai usia mereka," kata Kepala Petugas Sains di Autism Science Foundation di New York City Alycia Halladay.

Tidak ada tes medis atau darah untuk autisme. Dokter biasanya mengevaluasi perilaku anak melalui penyaringan perkembangan, kemudian mengevaluasi diagnostik komprehensif yang dapat mencakup tes pendengaran, penglihatan, dan neurologis. Dokter mungkin juga merekomendasikan kunjungan tindak lanjut ke spesialis, seperti dokter perkembangan anak.

2. Ada berbagai macam gejala

Gejala gangguan spektrum autisme dapat sangat bervariasi tergantung individu. Gejala GSA umumnya cenderung melibatkan kemampuan komunikasi dan perilaku sosial, seperti sangat tertutup, tidak ingin bermain dengan anak yang lain, atau tidak melakukan kontak mata.

Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme dapat mengulangi perilaku tertentu, seperti mengepakkan tangan berulang-ulang atau mungkin terobsesi dengan mainan tertentu. Kurangnya keterampilan verbal adalah salah satu gejala yang paling terkenal (20 sampai 30 persen penderita GSA diperkirakan tidak aktif), namun hal ini tidak selalu terjadi.

Gejala umum lainnya, yakni jika anak sangat sensitif terhadap kebisingan, menimbulkan amarah yang kuat, tidak merespons, tidak menunjuk pada objek yang menarik.

3. Anak laki-laki lebih mungkin didiagnosis

Gangguan spektrum autisme sekitar 4,5 kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, namun stereotipnya adalah semua orang autis adalah pria kulit putih. Orang-orang dari semua ras dan etnis dapat didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme.

Meski anak laki-laki cenderung didiagnosis lebih awal dan lebih sering daripada anak perempuan, semakin banyak bukti bahwa jumlah kasus GSA pada anak perempuan kurang didiagnosis.

Diagnosis GSA yang lebih sedikit untuk anak perempuan mungkin sebagian disebabkan apa yang orang harapkan dari anak laki-laki versus perempuan.

"Sering orang berpikir, gadis pemalu tidak apa-apa jika mereka tidak berbicara saat ini, dia lebih suka bermain sendiri. Anak laki-laki, stereotipnya adalah mereka harus bermain dengan teman, berkeliaran, dan bermain kasar," ujar Alexandra Perryman, analis perilaku dan klinisi di Institut Psikiatri Barat dan Klinik UPMC Theiss Early Autism Programme.

4. Autisme bisa dimulai sebelum kelahiran

Ilmuwan tidak tahu persis apa penyebab autisme. Sebagian besar ahli sepakat bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan dapat meningkatkan risiko anak terkena gangguan spektrum autisme, namun masih banyak yang tidak diketahui.

Ada bukti yang muncul bahwa anak-anak mungkin mulai mengembangkan autisme sebelum mereka dilahirkan. "Ini adalah titik waktu yang sangat penting. Kami tahu ini pra-kelahiran karena kami telah mengidentifikasi sel-sel di otak orang-orang dengan autisme yang berbeda. Sel-sel itu berkembang sebelum bayi lahir,” ujar Alycia Halladay.

Penelitian tampaknya menunjukkan bahwa obat-obatan tertentu yang dikonsumsi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko, seperti asam valproik, obat epilepsi.

Orang lebih tua juga memiliki kesempatan lebih tinggi memiliki anak autis, dan seseorang cenderung lebih memiliki kelainan spektrum autisme jika mereka memiliki saudara dengan GSA.

5. Anak autis cenderung memiliki kondisi kesehatan lainnya

Orang dengan gangguan spektrum autisme memiliki risiko lebih besar terhadap kondisi kesehatan lainnya. Sekitar dua persen orang dengan GSA memiliki sindrom rapuh, kelainan genetik yang menyebabkan kecacatan intelektual, dan sebanyak 39 persen autis mengalami epilepsi pada saat mereka dewasa.

Terlebih, orang dengan GSA juga mungkin lebih rentan terhadap kecemasan, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), depresi, masalah tidur, alergi, dan masalah perut.

6. Vaksin tidak menyebabkan autisme

Meski masih banyak pertengkaran mengenai hubungan antara vaksinasi dan autisme pada masa kanak-kanak, banyak studi menyebut hal itu hanya mitos.

"Vaksin bukan salah satu penyebabnya," kata Halladay.

Teori ini pertama kali dimulai setelah satu penelitian kecil pada 1998 mengklaim menemukan kaitan antara vaksin campak, gondong, dan rubella (MMR) dan autisme. Studi itu dianggap cacat, dan jurnal asli yang diterbitkan telah ditarik.

Thimerosal, bahan vaksin lain yang pernah dinilai dapat meningkatkan risiko autisme, juga belum dikaitkan dengan GSA. Sejak 2001, vaksin tersebut telah dikurangi atau dihilangkan.

Penelitian selanjutnya secara konsisten menemukan vaksin aman dan tidak mengidentifikasi adanya hubungan antara vaksinasi dini dan autisme.

7. Intervensi awal adalah kunci

Tidak ada obat untuk autisme, tapi intervensi dini dapat membantu anak-anak autis berkembang lebih baik. Membuat kontak mata lebih baik juga bisa diajarkan.

"Semakin dini anak dirawat, semakin banyak keuntungan yang terlihat dengan komunikasi dan keterampilan sosial," kata Perryman.

Ada juga obat-obatan yang tersedia untuk membantu mengelola beberapa gejala GSA, seperti antidepresan, obat anti kejang, atau obat-obatan untuk membantu memfokuskan perhatian.


(TRK)