Pernikahan Dini Tingkatkan Risiko Masalah Kesehatan pada Perempuan

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 27 Sep 2017 18:42 WIB
kesehatan
Pernikahan Dini Tingkatkan Risiko Masalah Kesehatan pada Perempuan
Anak dari Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BAPERMAS PP PA dan KB) Kota Surakarta dan Forum Anak Surakarta menggelar kampanye Anti Pergaulan Bebas dan Cegah Pernikahan Dini. Antara/Maulana Sur

Metrotvnews.com, Jakarta: Angka perkawinan anak di Indonesia masih terbilang tinggi, dimana satu dari empat anak telah menikah saat berusia di bawah 18 tahun.

Laporan dari Badan Pusat Statistik tahun 2012 menyebutkan bahwa sekitar 1,3 juta dari 87 juta anak di Indonesia telah menikah. Sementara data terbaru menyebutkan bahwa ada sekitar 1.000 anak perempuan menikah setiap harinya.

"Ini adalah kedaruratan, karena akan berdampak pada bonus demografi usia produktif dimana hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan sosial dan ekonomi," ujar Rohika Kurniadi selaku Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Pengasuhan, Keluarga dan Lingkungan di Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak RI dalam diskusi media, Rabu (27/9/2017).

Bonus demografi usia produktif yang berusia di atas 15 tahun akan mencapai 70 persen pada 2020-2030. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi percepatan roda pertumbuhan ekonomi ketika generasi muda mendominasi. Target tersebut tentunya harus didukung oleh kualitas penduduk yang baik dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan.

Sementara, perkawinan anak dinilai lebih banyak memberikan dampak negatif pada mereka yang melakoninya, terutama anak perempuan. Pertama, dari segi pendidikan, kemungkinan besar keinginan untuk menuntut ilmu pada anak perempuan yang telah menikah akan terhalangi karena adanya status baru yang dimiliki.

Kemudian, dari segi kesehatan reproduksi, kematangan alat reproduksi belum maksimal ketika anak perempuan masih berusia di bawah 20 tahun. Dengan demikian, risiko masalah kesehatan pun lebih besar.

"Pernikahan anak jadi penyumbang angka kematian ibu yang cukup besar," tambah Rohika.

Ketiga, dampak ekonomi yang dialami anak perempuan yang menikah di usia dini. Usia muda cenderung hanya memiliki tingkat pendidikan yang rendah sehingga dari segi pendapatan pun dapat dikatakan di bawah rata-rata.

Rohika menambahkan, saat ini terdapat lima provinsi dengan angka pernikahan anak yang tinggi, mencapai 39 persen di saat angka nasional 25 persen. Kelima provinsi tersebut adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.




(DEV)