4 'Ta' Penyebab Seseorang Mudah Stres dan Depresi

   •    Senin, 07 Aug 2017 10:27 WIB
kesehatan mentaldepresi
4 'Ta' Penyebab Seseorang Mudah Stres dan Depresi
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Stres atau depresi tak bisa dianggap sepele. Salah-salah, bunuh diri bisa jadi pilihan akhir manakala stres dan depresi tak teratasi.

Coach Jamil Azzaini mengatakan depresi umumnya terjadi saat orang menghadapi masalah. Masalah yang tak kunjung menemukan jalan keluar akan menimbulkan stres, bahkan hingga ke tingkat depresi.

"Menurut saya penyebabnya dua, ada celah antara harapan dan kenyataan, dan (kerap) memaknai sesuatu sebagai sebuah masalah," ujarnya, dalam I'm Possible, Minggu 6 Agustus 2017.

Celah antara harapan dan kenyataan itu Jamil sebut dengan 4 'ta', harta, tahta, kata, dan cinta. Harta berhubungan dengan keinginan seseorang agar mempunyai kekayaan berlebih, misalnya bercita-cita ingin kaya dengan berbagai cara namun tiba-tiba bangkrut.

Tahta, kata Jamil, bisa berhubungan dengan posisi pekerjaan yang diinginkan namun tak tercapai. Kata, berkaitan dengan tak adanya apresiasi orang lain atas pencapaian yang telah diraih, sementara cinta bisa karena patah hati lantaran putus cinta atau mengalami kehancuran rumah tangga.

"Sakit hati, patah hati karena ada gap antara harapan dan kenyataan ini akhirnya bisa berujung pada bunuh diri," kata Jamil.

Persoalan berikutnya sebagai salah satu sebab seseorang mudah depresi adalah memaknai segala sesuatu sebagai sebuah masalah. Misalnya orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ada orang yang menganggap bahwa kebijakan perusahaan dan pimpinan memecat karyawan karena 'jahat', namun ada pula yang memandangnya sebagai sesuatu yang positif. Seperti memberikan kesempatan bekerja di perusahaan lain yang lebih baik atau merintis karir sebagai wirausahawan.

"Jadi kalau kita ingin jauh dari bunuh diri, maka gap-nya harus diperkecil. Setiap ada masalah dimaknai dengan positif supaya kita tenang, santai, dan hidup kita enjoy," ungkap Jamil.

Selain gap dan kemampuan seseorang menghadapi persoalan, Jamil juga mengatakan setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan seseorang depresi. Faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal mungkin karena mengalami perundungan, pelecehan atau direndahkan. Agar dipahami, bahwa perilaku seperti ini sangat berbahaya. Karenanya, kata Jamil, melecehkan, merendahkan orang sangat tak baik meskipun dengan alasan guyon.

Terakhir, kata Jamil, faktor internal yang menjadi dominan membuat seseorang depresi adalah karena tak memiliki harapan dalam hidup.

"Menganggap hidup asal mengalir saja. Misalnya ketika menemui kegagalan dikira aib atau sesuatu yang memalukan padahal kegagalan itu sepaket dengan kesuksesan. Meratapi kegagalan hanya akan membuat terpuruk dan depresi. Harapan inilah yang akan menyelamatkan," jelasnya.




(MEL)