Mitos-Mitos Diabetes yang Menyesatkan

Media Indonesia    •    Rabu, 16 Nov 2016 11:02 WIB
diabetes
Mitos-Mitos Diabetes yang Menyesatkan
(Foto: Doctor Advice)

Metrotvnews.com, Jakarta: Diabetes melitus atau kencing manis menjadi salah satu penyakit yang menjadi beban masyarakat dan negara sebagai penyedia layanan Jaminan Kesehatan Nasional.

Meski berbagai sosialisasi telah dilakukan pemerintah dan berbagai pihak, masih ada saja beragam mitos terkait dengan penyakit tersebut yang kerap menyesatkan masyarakat.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta, Sandra Utami Widiastuti menjelaskan mitos-mitos tersebut.

"Mitos pertama yaitu diabetes bukanlah penyakit yang serius. Padahal, diabetes menyebabkan beragam komplikasi berbahaya seperti stroke dan serangan jantung. Diabetes tercatat menyebabkan angka kematian lebih tinggi daripada kanker payudara dan AIDS sekaligus."Mitos kedua, diabetes dapat dicegah. Faktanya, kata Sandra, tidak semua diabetes dapat dicegah. Diabetes tipe satu tidak dapat dicegah karena merupakan kelainan autoimun yang tidak diketahui penyebabnya. Untuk diabetes tipe dua, risikonya dapat ditekan 58% dengan olahraga teratur dan pola makan sehat.

"Akan tetapi, ada juga faktor risiko untuk mengidap diabetes tipe dua yang tidak dapat dicegah yakni faktor keturunan."

Mitos ketiga, pasien diabetes dapat merasakan jika gulanya terlalu rendah atau terlalu tinggi. Menurutnya, gula darah yang terlalu tinggi memang bisa menimbulkan gejala seperti sering haus dan buang air kecil. Demikian pula dengan gula darah rendah yang dapat menimbulkan gejala seperti rasa lapar, berkeringat dingin, mual, atau pusing. "Namun, gejala-gejala itu juga tidak selalu dirasakan penderita diabetes. Untuk itu, penting sekali melakukan pemeriksaan gula darah secara rutin."

Nasi dingin vs hangat

Mitos selanjutnya, diabetes diturunkan menyilang. Yakni dari ayah ke anak perempuan atau dari ibu ke anak laki-laki. Padahal, anak perempuan dan laki-laki memiliki peningkatan risiko yang sama apabila orangtuanya menderita diabetes. "Keluarga juga bukan satu-satunya faktor risiko, risiko diabetes bisa ditekan dengan gaya hidup sehat.

"Mitos berikutnya, ada diabetes tipe basah dan tipe kering. Faktanya, tidak ada tipe-tipe tersebut. Istilah diabetes tipe kering mengacu pada salah satu gejala diabetes yakni penurunan berat badan yang drastis hingga penderitanya kurus kering. Istilah diabetes tipe basah muncul karena penderita diabetes sering kali mengalami luka yang sulit sembuh dan bernanah.

"Mitos berikutnya ialah rasa urine yang manis pada penderita diabetes. Hal itu tidak benar karena rasa urine penderita diabetes tidak manis." Kemudian, ada juga mitos yang menyebutkan obat diabetes tidak baik karena dapat merusak fungsi ginjal. Padahal, gula darah yang tidak terkontrol karena tidak diobati yang mengakibatkan gangguan fungsi ginjal. Lalu, ada juga yang mitos yang menyebutkan diabetes dapat menular, padahal diabetes bukanlah penyakit menular.

"Mitos berikutnya yakni jika dokter menyarankan untuk menggunakan insulin artinya tidak ada harapan karena insulin dipakai seumur hidup. Yang benar, penggunaan insulin seumur hidup memang mutlak diperlukan untuk penderita diabetes tipe satu. Untuk tipe dua, insulin diberikan ketika obat oral tidak cukup untuk mengontrol gula darahnya atau pada keadaan tertentu," papar dia.

Saat ditanya apakah ada perbedaan dampak konsumsi nasi hangat dan nasi dingin terhadap diabetes, Sandra menegaskan tidak ada. "Suhu tidak memengaruhi jumlah kalori dan kandungan gula dari nasi. Yang ada, kalau makan nasi dingin kurang nikmat sehingga jumlah konsumsinya lebih sedikit. Otomatis asupan gulanya juga lebih sedikit," imbuh Sandra.


(DEV)