Studi: Indra Penciuman yang Baik Membuat Berat Badan Meningkat

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 14 Jul 2017 13:30 WIB
kesehatan
Studi: Indra Penciuman yang Baik Membuat Berat Badan Meningkat
Kenaikan berat badan tak hanya soal kalori yang masuk, namun bagaimana kalori tersebut dirasakan. (Foto: Como-decorar.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indra penciuman ternyata memiliki efek yang cukup besar pada tubuh, termasuk pada berat badan. Sebuah studi yang menguji coba tikus menemukan bahwa hewan yang tak memiliki indra penciuman yang baik lebih bisa menurunkan berat badan dibandingkan mereka yang bisa mencium bau makanan yang sedang dimakan. 

Menurut studi, tikus yang dapat mencium bau mengalami kenaikan berat badan dua kali libat dibandingkan tikus yang tak peka. 



Bahkan, tikus yang memiliki kemampuan membau di atas rata-rata, mengalami kenaikan berat badan lebih besar lagi dibanding tikus dengan indra penciuman normal. 

(Baca juga: Penyebab Berat Badan Tidak Turun Meski Melakoni Diet Vegan)

"Studi ini menunjukkan bahwa manipulasi saraf penciuman dapat mengubah cara otak merasakan keseimbangan energi dan mengaturnya," tukas pemimpin studi Céline Riera pada CBS. 

Ia menjelaskan, saraf penciuman tergolong unik karena tak berada di otak melainkan di hidung. 

Studi tersebut juga menunjukkan bagaimana penurunan berat badan kompleks dimana tak melulu tentang pembakaran kalori yang lebih banyak dibandingkan asupan makanan yang masuk. 

"Sistem sensor berperan dalam metabolisme. Kenaikan berat badan tak hanya soal kalori yang masuk, namun bagaimana kalori tersebut dirasakan." 



Menurut Authority Nutrition, kalori yang masuk dan keluar terlalu disederhanakan karena makanan akan diproses secara berbeda berdasarkan cara pemasakan menjadi energi. Bukan makan berlebih penyebab kenaikan berat badan, namun hormon insulin adalah penyebab utamanya. 

"Kita tahu bahwa pengobatan insulin yang berlebih pada diabetes menyebabkan kenaikan berat badan dan kekurangan insulin dapat menurunkan berat badan. Dan dari segala jenis makanan, karbohidrat adalah yang paling banyak menghasilkan insulin," demikian menurut Dr. David Ludwig dari Harvard Medical School.









(TIN)