Ciri-ciri Seseorang Kecanduan Gim

Yatin Suleha    •    Jumat, 03 Aug 2018 16:11 WIB
game disorder
Ciri-ciri Seseorang Kecanduan Gim
Dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan gim merupakan "Disorders due to addictive behavior". (Foto: Nikita Kachanovsky/Unsplash.com)

Jakarta: Memainkan gim memang mengasyikkan bahkan bisa sampai lupa waktu. Tetapi tahukah Anda bahwa terdapat tiga alasan seseorang memainkan permainan berbasis internet (online gaming)? Beberapa diantaranya yaitu bertujuan untuk bersenang-senang, menghilangkan stres, bisa juga untuk mengisi waktu luang.

“Kita tidak boleh mengatakan bahwa semua yang memainkan gim dikatakan kecanduan atau gangguan mental”, tutur praktisi kesehatan jiwa, dr. Kristiana Siste, SpKJ (K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia seperti dalam rilis yang diterima oleh Medcom.id melalui Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI.

Belum lama ini juga Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organizations (WHO) menetapkan Kecanduan gim atau game disorder ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya. 

Dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan gim merupakan "Disorders due to addictive behavior" atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Dijelaskan dr. Siste, seseorang dikatakan online/video gaming disorder bila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan WHO, yaitu adanya perilaku berpola dengan karakteristik sebagai berikut: 

(Baca juga: Kenali Pertanda Gangguan Gim)

1) Ada ganguan kontrol untuk melakukan permainan tersebut (tidak dapat mengendalikan diri)
2) Lebih memprioritaskan memainkan permainan tersebut dibandingkan dengan aktivitas yang seharusnya lebih diutamakan 3) Intensitasnya semakin meningkat dan berkelanjutan meskipun ada konsekuensi atau dampak negatif yang dirasakan
4) Perilaku berpola tersebut menyebabkan gangguan yang bermakna pada fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan dan area penting lainnya
5) pola tersebut sudah berlangsung selama 12 bulan

“Bermain gim sampai menyebabkan distress dan disfungsi, barulah akan kita masukkan ke kategori gangguan mental," tukas dr. Siste.

Online gaming ini, menurut dr. Siste, sangat digemari anak-anak, remaja bahkan dewasa muda seringkali menyuguhkan konten yang memacu adrenalin (tantangan). 

Selain itu, di dalam permainan semua pemain diberikan kesempatan yang setara untuk menang, sementara pada kehidupan nyata (sehari-hari) adanya label-label negatif pada seseorang (di lingkungan sosial atau sekitar).

“Pada gim juga reward-nya cepat, kalau menang dapat poin, sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa demikian untuk sekedar dapat pujian," ujar dr. Siste.

"Online gaming menjadi semakin memicu kerentanan terhadap kecanduan dengan munculnya permainan dengan kategori Massive Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG)," tulis dalam rilis yang sama.

Kategori ini yang paling sering dimainkan, karena pemain tidak bermain sendirian, mereka membuat relasi virtual untuk memainkan permainan tersebut. 

Para pemainnya dapat membentuk kepribadian yang diinginkan, mengontrol karakternya, melakukan pembagian tugas dan berinteraksi dengan pemain lain secara virtual. 

Permainan terus berlanjut meski pemain tidak sedang memainkannya. Apabila seorang pemain absen dalam waktu lama dari permainan tersebut, ia akan kehilangan pengaruh dan kekuatannya.

“Ini yang membuat mereka sulit melepaskan. Seseorang yang bermain gim lebih dari 3 jam setiap hari rentan kecanduan," pungkas dr. Siste.

Bila seseorang sudah sampai tahap kecanduan biasanya menunjukkan gejala putus perilaku, yakni apabila dihentikan kesenangannya (bermain gim) maka akan timbul energi negatif, mulai dari kesal, marah-marah, mengancam orang lain, bahkan menyakiti diri sendiri.



(TIN)