Diet Remaja Dapat Berujung pada Kebiasaan Buruk

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 02 Jun 2018 19:12 WIB
diet
Diet Remaja Dapat Berujung pada Kebiasaan Buruk
Diet Remaja Dapat Berujung pada Kebiasaan Buruk (Foto: gettyimages)

Jakarta: Tak sedikit remaja perempuan yang ingin memiliki tubuh kurus. Namun, penurunan berat badan yang disengaja ternyata dapat memicu munculnya gaya hidup buruk.

Sebuah penelitian menemukan bahwa usaha menurunkan berat badan dapat meningkatkan perilaku tak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan tak sarapan.

Remaja yang diet cenderung 1,6 kali lebih mungkin untuk merokok dan tak sarapan, serta 1,5 kali lebih mungkin merokok dan konsumsi minuman keras dibandingkan mereka yang tak diet.

"Perubahan post-pubertas sering kali membuat berat badan naik pada perempuan dan ada tekanan dari media sosial atau lainny untuk memiliki berat badan ideal." ujar pemimpin penelitian Amanda Raffoul dari University of Waterloo, Kanada.

Menurutnya, penurunan berat badan yang disengaja bukanlah sesuatu yang harus selalu didukung, terutama di antara populasi remaja. Hal ini diakrenakan kemungkinan inisiatif yang baik tersebut justru bisa memberi dampak buruk.

"Sebaliknya, kita harus fokus pada kesehatan secara luas daripada berat sebagai indikator kesehatan," tambah Raffoul.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Canadian Journal of Public Health tersebut melibatkan 3.300 gadis sekolah menengah.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dibandingkan dengan perempuan yang tidak melakukan diet pada saat pengumpulan data awal, mereka yang sedang berdiet lebih cenderung terlibat dalam satu atau lebih kelompok perilaku berisiko lainnya tiga tahun kemudian.

"Hubungan antara diet dan perilaku kompromi kesehatan lainnya mengkhawatirkan sejak 70 persen anak perempuan melaporkan diet di beberapa titik selama tiga tahun," tambah Raffoul.

Menurut Sharon Kirkpatrick, Profesor dari universitas, studi tersbeut mengamati faktor-faktor penting yang berhubungan dengan kesehatan, termasuk berbagai perilaku dan pengaruhnya  pada mereka, dalam kombinasi.

"Hanya dengan memahami cara-cara kompleks di mana faktor-faktor ini berinteraksi, kami dapat mengidentifikasi intervensi yang efektif, serta memprediksi dan memantau potensi efek yang tidak diinginkan dari intervensi tersebut," tambahnya.



 


(ELG)