Ini Alasan Kenapa Nyamuk Sulit Diberantas

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 17 Jul 2018 16:08 WIB
demam berdarah
Ini Alasan Kenapa Nyamuk Sulit Diberantas
(Foto: The Local Sweden)

Jakarta: Berbagai upaya dilakukan untuk memberantas nyamuk, seperti melakukan pola hidup 3M, menggunakan semprotan nyamuk, hingga fogging.

Namun, jika nyamuk tetap masih ada, kemungkinan terjadi resistensi nyamuk. 

Menurut Global Vector Control & Public Health Advisor untuk International SOS, Dr. Michael Bangs, resistensi adalah perubahan sensitivitas dari populasi karena kegagalan berulang dan tingkat kendali berkurang terhadap spesies serangga tersebut.

Sebastian menjelaskan bahwa ada beberapa jenis resiatensi nyamuk yang umumnya terjadi.

Pertama, resistensi perilaku dimana nyamuk mengubah pola menggigit manusia. Sebastian memberi contoh, penggunaan kelambu membuat nyamuk kesulitan menggigit karena umumnya nyamuk menggigit di malam hari, saat kelambu sudah terpasang.

"Kemudian nyamuk mengubah perilaku dengan menggigit pada pukul 6 sore, saat kelambu belum dipasang," ujarnya pada Bayer media briefing, Selasa 17 Juli 2018.

Selanjutnya, terjadi penetrasi yang lebih kecil dimana kutikel nyamuk bertambah tebal sehingga tak mempan pada insektisida tertentu.

Ketiga, terjadi resistensi metabolisme. Artinya, ketika insektisida masuk dalam tubuh nyamuk, terdapat enzim yang menghancurkan zat tersebut.

Terakhir, terdapat resistensi target dimana insektisida awalnya mempan untuk membasmi nyamuk, tetapi semakin lama terjadi mutasi yabg membuat tubuh nyamuk menjadi kebal pada insektisida.

"Sebagai contoh, ibarat insektisida adalah kunci sementara lubang kunci adalah tubuh nyamuk itu sendiri. Semakin lama, lubang akan semakin kecil, jadi kunci tak bisa masuk."

Terkadang, tambah Sebastian, nyamuk melakukan resisten ganda untuk membentengi diri. Misalnya, nyamuk melakukan resistensi metabolisme dan resistensi target bersamaan.

Berbagai mekanisme resistensi tersebut membutuhkan pendekatan holistik untuk memberantasnya. 

"Kita memerlukan sumber daya manusia yang memahaminya, bukan sekadar produk."

Lihat video:





(DEV)