Benarkah Buah Lebih Sehat Jika Dimakan Langsung Ketimbang Dibuat Jus?

Anggi Tondi Martaon    •    Senin, 06 Nov 2017 11:11 WIB
tips kesehatan
Benarkah Buah Lebih Sehat Jika Dimakan Langsung Ketimbang Dibuat Jus?
(Foto: Thehealthychewdotorg)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terkadang kita tidak pernah membandingkan mana yang lebih menyehatkan, mengonsumsi buah langsung atau mengolahnya dalam bentuk jus. Sebab, kebanyakan orang berpikir bahwa kedua hal itu sama-sama menyehatkan.

Namun, bagi yang hobi mengonsumsi buah melalui jus sebaiknya mengubah kebiasaan itu. Sebab, mengkonsumsi buah dengan cara dimakan lebih baik bagi kesehatan ketimbang disajikan kedalam bentuk minuman.

Hal itu disampaikan oleh Dr Joel Zonszeinm, Direktur Pusat diabetes klinis di Montefiore Medical Center di New York City. Menurutnya, ada beberapa unsur yang hilang dari buahan itu jika disajikan kedalam bentuk jus.

Seperti mengonsumsi apel. Jika dimakan langsung, kandungan gizi yang ada dalam apel akan terserap dengan baik oleh tubuh.

"Selain gula, apel juga banyak serat dan membuat lebih kenyang," kata Zonszeinm saat dikutip dari WebMD.

Sebaliknya, buah apel tidak akan menguntungkan bagi tubuh jika disajikan dalam bentuk jus. Selain tidak mengandung serat, kadar gula dalam seporsi jus meningkat, menjadi setara dengan tiga atau empat buah apel.

"Dan itu tentunya akan meningkatkan gula darah," sebut dia.
 
Fakta bahwa minum jus merupakan kebiasaan kurang baik didukung oleh sebuah studi yang dipublikasikan dalam sebuah Journal of the Endocrine Society. Dalam penelitian itu disebutkan, jus masuk kedalam kategori minuman manis yang tidak baik bagi kesehatan.

Dalam penelitian itu disebutkan, menonsumsi minuman manis berpotensi terhadap menambah berat badan. Tak hanya itu, tubuh juga rentan terhadap diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, sekelompok kondisi yang memiliki risiko penyakit jantung.

"Beberapa studi menemukan bahwa mengkonsumsi sesedikit dua porsi minuman gula-manis seminggu dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, diabetes dan penyakit jantung dan stroke," kata penulis senior studi Faadiel Essop, seorang profesor di Stellenbosch Universitas di Afrika Selatan.




(DEV)