Studi: Apel dan Tomat Baik Dikonsumsi Setelah Berhenti Merokok

Anggi Tondi Martaon    •    Selasa, 26 Dec 2017 13:34 WIB
kesehatan
Studi: Apel dan Tomat Baik Dikonsumsi Setelah Berhenti Merokok
Menurut sebuah penelitian dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg di Baltimore, diet tinggi tomat dan apel dapat mempercepat penyembuhan paru-paru yang rusak akibat asap rokok. (Foto: Calum Lewis/Unsplash.com)

Jakarta: Bagi mantan perokok, Anda tidak perlu bersusah payah mengembalikan kesehatan paru-paru. Anda cukup mengonsumsi tomat dan apel untuk mengembalikan kesehatan paru-paru setelah berhenti merokok.

Menurut sebuah penelitian dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg di Baltimore, diet tinggi tomat dan apel dapat mempercepat penyembuhan paru-paru yang rusak akibat asap rokok. 

"Ini juga menunjukkan bahwa makanan yang kaya buah dapat memperlambat proses penuaan alami paru-paru bahkan jika Anda belum pernah merokok," kata penulis utama Vanessa Garcia-Larsen, asisten profesor kesehatan internasional saat dikutip dari WebMD.com.

Studi ini melibatkan lebih dari 650 orang dewasa di Jerman, Norwegia, dan Inggris. Seluruh responden menjalani diet selama 10 tahun (2002-2010). 


(Garcia-Larsen juga menyampaikan, manfaat tomat dan apel terhadap kesehatan paru-paru lebih terlihat pada mantan perokok. Foto: Pixabay.com)

(Baca juga: Peneliti Ungkap Cara Efektif Hentikan Kebiasaan Merokok)

Garcia-Larsen menyebutkan bahwa riset ini tidak dirancang untuk membuktikan sebab dan akibat. Namun, orang yang makan rata-rata lebih dari dua tomat atau lebih dari tiga porsi buah segar setiap hari, terutama apel, memiliki penurunan fungsi paru yang lebih lambat dibandingkan mereka yang makan kurang dari satu tomat atau kurang dari satu porsi buah per hari.

Garcia-Larsen juga menyampaikan, manfaat tomat dan apel terhadap kesehatan paru-paru lebih terlihat pada mantan perokok. Sebab nutrisi pada tomat dan buah segar dapat membantu memperbaiki kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh merokok.

"Temuan ini mendukung kebutuhan akan rekomendasi diet, terutama bagi orang-orang (dengan riwayat merokok) yang berisiko terkena penyakit pernafasan seperti COPD (penyakit paru obstruktif kronik)," kata Garcia-Larsen dalam siaran pers Hopkins. Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of the Respiratory Journal edisi Desember.










(TIN)