Kejadian Traumatik Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung Saat Menopause

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 17 Nov 2017 14:36 WIB
Kejadian Traumatik Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung Saat Menopause
Studi dari The North American Menopause Society (NAMS) menunjukkan bahwa terdapat bukti kuat dimana faktor psikososial yang bisa menyebabkan penyakit jantung. (Foto: Luke Braswell/Unsplash.com)

Jakarta: Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di berbagai negara, salah satunya di Inggris, yang menyebabkan satu orang meninggal setiap delapan menit. 

Beberapa gejala dari penyakit ini adalah nyeri dada, jantung berdebar, dan sesak napas. 

Meskipun kebiasaan merokok dan tekanan darah tinggi termasuk dalam faktor risiko umum, para peneliti menemukan bahwa pengalaman traumatik juga dapat meningkatkan risiko jantung bermasalah. 

Sebuah studi yang dipresentasikan dalam The North American Menopause Society (NAMS) bulan lalu menunjukkan bahwa terdapat bukti kuat dimana faktor psikososial, yang berarti aspek psikologis dan sosial, dapat memengaruhi kesehatan vaskular, dan mungkin suatu saat bisa menyebabkan penyakit jantung.

Dalam studi baru ini, para ilmuwan menguji apakah sejumlah besar pengalaman traumatis selama masa hidup mereka terkait dengan fungsi endotel yang lebih buruk.

Endothelium adalah lapisan dalam dari jantung dan pembuluh darah.

Sementara, pengalaman traumatis didefinisikan sebagai kejadian seperti pelecehan seksual, kematian anak, kecelakaan mobil, mengalami bencana alam, dipukuli atau dirampok.


(Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di berbagai negara, salah satunya di Inggris, yang menyebabkan satu orang meninggal setiap delapan menit. Foto: Clem Onojeghuo/Unsplash.com)


(Baca juga: Efek Kecelakaan Mobil pada Penderita Penyakit Jantung)

Mereka menemukan bahwa perempuan memiliki pengalaman traumatis lebih banyak, yaitu tiga hingga empat kali lipat jika memiliki fungsi endotel yang lebih buruk. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa risiko pada wanita menopause jauh lebih besar lagi. 

Studi tersebut melibatkan 272 wanita yang masih menstruasi dan menopause yang bukan perokok. Selama masa transisi menopause, ternyata terdapat peningkatan risiko penyakit jantung. 

"Temuan ini menggarisbawahi pentingnya faktor psikososial, seperti paparan trauma, dalam pengembangan risiko penyakit jantung pada wanita paruh baya," kata Dr Rebecca Thurston, penulis utama studi dari University of Pittsburgh. Peneliti menyarankan bahwa faktor risiko fisiologis dan fisik harus diperhitungkan.

"Mengingat persentase besar wanita pascamenopause yang terkena penyakit jantung, studi ini membantu mengingatkan penyedia layanan kesehatan tentang kebutuhan untuk benar-benar mendiskusikan sejarah wanita, selain sekadar bertanya tentang kesehatan fisiknya," kata Dr JoAnn Pinkerton, direktur eksekutif NAMS.

Menurut Heart UK, delapan faktor risiko penyakit jantung utama yang diidentifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia adalah penggunaan alkohol, penggunaan tembakau, tekanan darah tinggi, indeks massa tubuh tinggi, kolesterol tinggi, glukosa darah tinggi, asupan buah dan sayuran rendah, dan aktivitas fisik.









(TIN)