Sindrom Patah Hati Bisa Timbulkan Efek Serupa dengan Serangan Jantung

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 18 Nov 2017 08:14 WIB
studi kesehatan
Sindrom Patah Hati Bisa Timbulkan Efek Serupa dengan Serangan Jantung
Sindrom Patah Hati Bisa Timbulkan Efek Serupa dengan Serangan Jantung (Foto: istock)

Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa tekanan emosional parah dapat menyebabkan gangguan jantung jangka panjang, yang memiliki efek yang sama dengan serangan jantung.

Takoesubo kardiomiopati atau lebih dikenal dengan sindrom patah hati telah dialami oleh setidaknya 3 ribu orang Inggris dan umumnya dipicu oleh kejadian traumatis, seperti kehilangan.

Selama serangan, otot jantung melemah ke titik di mana bagian tersebut tidak dapat lagi berfungsi secara efektif.

Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa kerusakan tersebut bersifat sementara. Namun, para peneliti dari University of Aberdeen berpendapat sebaliknya.

Studi yang didanai oleh British Heart Foundation (BHF) terxebut memeriksa 37 pasien Takostubo untuk jangka waktu rata-rata dua tahun dengan menggunakan pemindaian ultrasound dan MRI.

Mereka mempresentasikan temuan tersebut di American Heart Association Scientific Sessions di Anaheim, California dan mengungkapkan bahwa para partisipan memiliki kerusakan yang tidak dapat diobati pada jaringan otot jantung yang telah mengalami penurunan elastisitas, sehingga tak bisa kontraksi penuh setiap jantung berdetak.

Menurut studi lain yang dilakukan oleh Harvard Medical School, lebih dari 90 persen kasus yang dilaporkan dari Takostubo adalah wanita berusia antara 58 dan 75 tahun.

"Takotsubo adalah penyakit yang menghancurkan yang tiba-tiba dapat menyerang orang lain yang sehat," jelas Profesor Jeremy Pearson, associate medical director di BHF.

"Kami pernah mengira dampak dari penyakit yang mengancam jiwa ini bersifat sementara, tapi sekarang kami dapat melihat bahwa penyakit tersebut dapat terus mempengaruhi orang selama sisa hidup mereka."

Pearson menambahkan, saat ini tidak ada perawatan jangka panjang untuk pasien karena petugas medis sebelumnya mengira semua penderita akan sembuh total.

"Penelitian baru ini menunjukkan ada efek jangka panjang pada kesehatan jantung, dan menyarankan agar kita merawat pasien dengan cara yang serupa dengan orang yang berisiko mengalami gagal jantung," pungkasnya.


 


(ELG)