Masalah Kantor dan Keluarga yang Bertubrukan Lemahkan Kesehatan Fisik

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 18 Nov 2016 18:51 WIB
kesehatan dan produktivitas
Masalah Kantor dan Keluarga yang Bertubrukan Lemahkan Kesehatan Fisik
Penelitian lain menunjukkan bahwa pemikiran berulang mencegah seseorang untuk sembuh dari tekanan yang dialami sehari-hari. (Foto: Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Berbagai masalah yang muncul dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi diketahui dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Namun sebuah studi mengungkapkan bahwa mendiamkan masalah-masalah tersebut, hanya memikirkannya berulang kali, akan membuat keadaan semakin buruk. 

Studi tersebut ingin mengetahui apakah "pemikiran berulang" adalah penyebab langsung masalah kesehatan yang berkaitan dengan konflik antara pekerjaan dan kehidupan keluarga. 

Istilah psikologi ini mengacu berpikir berulang kali dan dengan penuh perhatian tentang sesuatu, dan mengalami kesulitan mengendalikan atau menghentikan pikiran-pikiran itu. 

Dalam hal ini, terjadi benturan antara dua kepentingan, misalnya ketika seseorang harus melakukan rapat di kantor sehingga tak bisa melihat anaknya bertanding sepak bola. 

Penelitian lain menunjukkan bahwa pemikiran berulang mencegah seseorang untuk sembuh dari tekanan yang dialami sehari-hari. 

Metode penelitian
Untuk menentukan dampaknya pada stres yang berhubungan dengan pekerjaan secara khusus, para peneliti merekrut 203 orang dewasa yang memiliki pasangan dan /atau anak-anak yang tinggal di rumah.

Para peneliti memberikan berbagai pertanyaan dan memberi nilai dalam beberapa bidang seperti kepuasan hidup, kelelahan, dan laporan kesehatan pribadi. 

Mereka juga menilai frekuensi suasana hati positif atau negatif, dan melihat riwayat kesehatan mereka apakah pernah mengalami salah satu atau beberapa dari 22 kondisi seperti stroke atau diabetes. 

Para peserta ditanyai tentang berapa banyak pekerjaan mereka mengganggu kehidupan keluarga mereka, dan seberapa sering mereka pikiran mereka mengganggu karena konflik tersebut.

Seperti pada penelitian sebelumnya, orang-orang yang memiliki lebih banyak konflik pekerjaan dan keluarga cenderung untuk mendapat nilai lebih rendah pada semua ukuran kesehatan dan kesejahteraan. 

Orang-orang yang melaporkan lebih banyak berpikir berulang memiliki nilai kesehatan dan kesejahteraan  lebih rendah  daripada mereka yang tidak berpikir tentang konflik pekerjaan mereka. 


Hasil penelitian
Sederhananya, konflik pekerjaan dan keluarga tidak lantas membuat seseorang mejadi tak bahagia, kecuali mereka sering memikirkannya. 

Kelly D. Davis, Ph.D., asisten profesor kesehatan keluarga dan pembangunan manusia di Oregon State University, mengatakan bahwa pemikiran berulang mirip dengan dua proses berpikir lainnya, yaitu ruminasi (tinggal pada hal-hal yang sudah terjadi) dan khawatir (merasa cemas apa yang akan terjadi di masa depan). Ketiga hal tersebut dapat memiliki efek yang merugikan pada kesehatan, katanya.

Davis berpendapat bahwa pekerja perlu melakukan perubahan. 

"Buatlah pelatihan kesadaran atau strategi lain di tempat kerja yang membuat budaya suportif, yang menyadarkan bahwa pekerja  memiliki kehidupan lain selain pekerjaan dan mereka memiliki konflik lain," ujarnya. 

Hal seperti itu akan memberikan investasi balik yang baik pada perusahaan, terutama pada pekerja yang peduli pada keluarga. 

"Tak semua dari kita bisa menghilangkan pikiran berulang tentang konflik kerja-keluarga. Ini adalah dukungan dan budaya organisasi yang penting dimana adanya aturan yang harus mengorbankan salah satu," tutupnya. 



(TIN)