Lingkungan Berpengaruh dalam Membentuk Prilaku LGBT

Juven Martua Sitompul    •    Sabtu, 23 Dec 2017 20:21 WIB
kontroversi lgbt
Lingkungan Berpengaruh dalam Membentuk Prilaku LGBT
Ilustrasi

Jakarta: Pakar Neuropsikolog Ikhsan Gumilar menyebut, otak orang yang berprilaku Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) tidak berkembang. Sebab, kelompok LGBT terjebak dalam pemikiran yang salah.

"Jika sampai umur 40 tahun (berhenti berkembang) ya sudah berarti umur segitu," kata Ikhsan dalam diskusi Sindotrijaya bertajuk LGBT, Hak Asasi dan Kita di Jakarta, Sabtu 23 Desember 2017.

Kendati begitu, Ikhsan mengakui dari hasil riset terbaru disebutkan otak pengidap LGBT dapat kembali berkembang dan normal jika terus dilakukan terapi ke psikiater atau psikolog. Artinya pengidap LGBT dapat disembuhkan.

Menurut Ikhsan, lingkungan dan paikologis menjadi faktor seseorang mengidap LGBT. Apalagi, lanjut dia, lingkungan menganggap seseorang yang suka sesama jenis adalah hal yang lazim.

"Karena ada faktor lingkungan yang membentuk. Jadi pendidikan di keluarga juga sangat berpengaruh (untuk membentengi). Begitu kira-kira dalam konteks neuropsikologi," tutur dia.

Di sisi lain, prilaku LGBT juga muncul karena seseorang menganggap dirinya memiliki kelainan. Ikhsan mengatakan, prilaku LGBT biasanya lebih banyak menyerang anak-anak dan remaja.

"‎Cuma bedanya ketika remaja itu galau dia salah masuk ke komunitas dan menilai prilaku seperti itu enggak apa-apa, karena kamu minoritas. Kalau seperti jawabannya hampir 100 persen pasti jadi LGBT," pungkas dia.


(SCI)