Cara Terbaik Memberikan Pendidikan Seks pada Remaja

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 04 Sep 2018 15:05 WIB
seks dan kesehatan
Cara Terbaik Memberikan Pendidikan Seks pada Remaja
(Foto: UCSB Department of Sociology)

Jakarta: Topik seks dan reproduksi di Indonesia kelihatannya masih tabu untuk diperbincangkan. Padahal, ini adalah salah satu hal untuk mencegah penularan penyakit seksual dan kehamilan yang tak direncanakan.

"Di Indonesia, seksual tidak tabu dilakukan tapi tabu untuk dibicarakan," ujar psikolog klinis dari Klinik Angsamerah, Inez Kristanti, dalam peluncuran dan konferensi pers kampanye #AkuDewasa, Selasa 4 Septempber 2018.

Hal tersebut terbukti dari penelitian yang pernah dilakukan Inez beberapa tahun lalu dimana 30 persen dari 2.000 wanita lajang berusia 15-34 tahun mengaku aktif secara seksual.

Ini artinya, remaja atau dewasa muda perlu mendapatkan pendidikan seksual dan reporduksi supaya aman dalam melakukannya. Namun, diperlukan strategi tersendiri agar lebih mudah diterima.

Berdasarkan sebuah penelitian luar negeri, lanjut Inez, kebanyakan pendidikan seksual yang sifatnya menakut-nakuti justru tidak membuat seseorang berhenti berhubungan seks. Dibutuhkan pengarahan yang bersifat komperehensif.

"Komperehensif berarti memberitahu risiko dan alternatif sehingga memberi pilihan pada mereka. Tidak menghakimi, tetapi memberi solusi."

Cara tersebut dinilai lebih efektif karena karakter remaja yang selalu ingin tahu membuat mereka akan mencari informasi dari berbagai sumber, seperti internet atau bertanya pada teman.

"Mereka mencari informasi tapi dari tempat yang salah karena tak ada wadah yang aman dan nyaman di sekolah untuk membicarakan seks."

Oleh karena itu, para remaja seharusnya diberikan ruang tersendiri untuk mendapat informasi yang tepat. Di satu sisi, remaja cenderung enggan membahas topik satu ini.

"Inilah otoritas dari guru dan orang tua untuk memberi rasa aman bagi mereka untuk bisa bebas bertanya seputar seks dan reproduksi," ujar Inez.

Kalaupun anak mencari informasi sendiri melalui internet, Inez mengimbau agar hanya percaya pada informasi yang terpercaya, misalnya dengan narasumber dokter atau psikolog. 

Lihat video:





(DEV)