tema khusus rona

Mencintai atau Dicintai, Mana yang Lebih Baik?

Yatin Suleha    •    Senin, 14 May 2018 12:57 WIB
romansapsikologi
Mencintai atau Dicintai, Mana yang Lebih Baik?
Bagaimanakah berhubungan dalam kisah jatuh cinta yang sehat. Psikolog Efnie Indrianie menerangkannya untuk Anda. (Foto: Sept Commercial/Unsplash.com)

Jakarta: Sebagai orang dewasa tentu mengetahui rasanya jatuh cinta. Namun, kita memiliki perasaan tentang siapa yang mencintai atau dicintai. Dan terkadang sangat terasa perbedaan antara mencintai dan dicintai.

Mencintai seseorang membuat seseorang merasa mau melakukan hal apa pun (bahkan tak jarang melakukan hal yang di luar kemampuan atau jangkauannya untuk tetap bisa balas dicintai). Sedangkan, bagi yang merasa dicintai, seakan tiba rasanya seperti sedang di atas awan.

Kalau sudah begini, sebenarnya lebih baik yang manakah pihak yang dicintai ataukah yang mencintai? Efnie Indrianie, M.Psi psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung menjelaskannya.


(Bagi sebagian besar orang pasti berpikir merasa lebih enak dicintai, karena merasa dirinya berada di posisi lebih atas. Foto: Joanna Nix/Unsplash.com)

Mencintai adalah hal yang baik
"Bagi sebagian besar orang pasti berpikir merasa lebih enak dicintai, karena merasa dirinya berada di posisi lebih atas. Namun, dilihat dari sudut pandang biopsikologi bahwa mencintai itu merupakan hal yang baik," ujar Efnie. Hal ini alasannya adalah saat seseorang mencintai hormon oksitosin aktif di tubuhnya dan hal ini bagus untuk kesehatan fisik dan mental." 

"Hal yang perlu diingat adalah mencintai itu artinya ikhlas memberikan kasih sayang, dan dengan demikian barulah hormon oksitosin tersebut aktif. Jika mencintai karena obsesi dan berlebihan malah hanya meningkatkan adrenalin dan kortisol (hormon stres)," papar psikolog yang ramah ini.

(Baca juga: 4 Fakta yang Dialami Seseorang Saat Jatuh Cinta)

Ciri mencintai dan dicintai
Bagaimana perbedaan mendasar antara mencintai dan dicintai? Menurut Efnie saat mecintai seseorang memberi, dan saat dicintai menerima. "Untuk bisa mencintai dengan cara yang sehat tentunya butuh kematangan dan pendewasaan karakter, agar tidak menjadi posesif. Saat kita dicintai tentunya kita sebagai pihak yang menerima afeksi."

Ia menjelaskan lagi ketika seseorang mencintai mereka memberikan apa yang jadi miliknya, bisa waktu, harta, atau benda. Yang membuat proses mencintai menjadi sehat atau tidak ke mental seseorang adalah dari proses keikhlasan saat memberikannya. "Ketika dicintai seseorang biasanya lebih terbiasa menerima, sehingga saat kurang mendapat perhatian akan muncul reaksi protes darinya."


(Yang membuat proses mencintai menjadi sehat atau tidak ke mental seseorang adalah dari proses keikhlasan saat memberikannya. Foto: Toa Heftiba/Unsplash.com)

Kelebihan dan kekurangan mencintai
Kelebihan mencintai menurut Efnie adalah kita terlatih untuk bisa memberi, dan jika dilakukan dengan keikhlasan hal ini sangat baik untuk pendewasaan. "Kekurangan dari mencintai adalah jika dilakukan dengan hasrat untuk mendominasi maka akan mudah kecewa saat yang dicintai tidak selalu sesuai dengan keinginan kita."

"Begitu juga dengan kelebihan dicintai adalah terciptanya safe and secure feeling yang membuat kita nyaman. Namun kekurangannya adalah jika kita melulu ingin dicintai maka akan muncul egoisme pribadi," tambah Efnie.

Tips jatuh cinta yang sehat
Lalu bagaimanakah berhubungan dalam kisah jatuh cinta yang sehat? Menurut Efnie dalam sebuah hubungan yang sehat sebaiknya ada “give and receive” antara satu sama lain, sehingga terciptanya hubungan timbal balik yang saling mengisi.

"Satu hal yang perlu diingat, kematangan kepribadian akan sangat membantu kita untuk memiliki self control yang baik dalam berhubungan," saran Efnie.














Konsultan: Efnie Indrianie, M.Psi
Psikolog anak, remaja, dan keluarga
Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung







(TIN)