Jangan Ulangi Pembelian Antibiotik yang Pernah Diresepkan Dokter

Dhaifurrakhman Abas    •    Jumat, 16 Nov 2018 06:00 WIB
antibiotik
Jangan Ulangi Pembelian Antibiotik yang Pernah Diresepkan Dokter
Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO), resistensi antibiotik saat ini bertanggung jawab atas 700 ribu kematian di seluruh dunia. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)

Jakarta: Masyarakat diimbau tidak mengulangi pembelian obat antibiotik yang pernah diresepkan dokter secara mandiri ke apotek dan toko obat. Meskipun tubuh diserang penyakit yang sama di kemudian hari.

"Mengulang resep antibiotika tidak boleh," kata sekretaris Komite Pengendaloan Resistensi Antimkiroba (KPRA), dr. Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K), saat dihubungi Medcom.id, Kamis 15 November 2018.

Anis melanjutkan, hal itu dilarang karena bisa mengakibatkan bakteri kebal terhadap segala jenis antibiotik alias resistensi antibiotik. Bila itu terjadi, maka tak ada cara lain untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi bakteri.

"Itu yang ditakutkan yaitu kembali pada masa sebelum antibiotik ditemukan (Alexander Fleming). Penyakit infeksi tidak bisa disembuhkan," ungkap Anis.

(Baca juga: Masyarakat Mesti Paham Bahaya Resistensi Antibiotik)


(Masyarakat diimbau tidak mengulangi pembelian obat antibiotik yang pernah diresepkan dokter secara mandiri ke apotek dan toko obat. Meskipun tubuh diserang penyakit yang sama di kemudian hari. Foto: Rawpixel/Unsplash.com)

Sementara itu salah satu yang bisa diharapkan untuk membunuh bakteri yang sudah kebal yakni dengan menunggu kehadiran antibiotik jenis baru. Masalahnya, untuk meracik antibiotik termutakhir tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu hingga belasan tahun.

"Dibutuhkan penelitian dan pengembangan selama 12 sampai 14 tahun. Sementara itu tingkat keberhasilan antibiotik terbaru tidak menjamin kesembuhan total," ujar Anis.

Beberapa hal yang harus disadari oleh masyarakat adalah bakteri resisten antibiotik ini bisa menyerang siapa saja dan dapat menular dengan mudah. Menurut Anis, media penularan bakteri bisa melalui udara, handuk dan sentuhan tangan yang tidak bersih.

Untuk itu Anis mengimbau seluruh masyarakat bijak dalam mengonsumsi antibiotik. Ia juga menyarankan agar masyarakat selalu mengamalkan pola hidup higienis dan sehat agar terhindar dari bakteri penyebab infeksi.

"Menjadi tugas kita untuk kemudian mengedukasi masyarakat bahwa masalah resistensi antibiotik ini berbahaya. Harus hati-hati dalam penggunaannya," pungkasnya.

Sekedar informasi, berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO), resistensi antibiotik saat ini bertanggung jawab atas 700 ribu kematian di seluruh dunia. WHO juga memprediksi akan ada 10 juta kematian pada 2050 akibat resistensi antibiotik.





(TIN)