Serangan Jantung Selama Berhubungan Seks Dapat Berakhir dengan Kematian

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 05 Sep 2017 10:56 WIB
seks dan kesehatan
Serangan Jantung Selama Berhubungan Seks Dapat Berakhir dengan Kematian
Para peneliti menemukan bahwa hanya satu dari delapan korban selamat jika mereka mengalami serangan jantung saat beraktivitas seksual. (Foto: Genessa Panainte/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa pria empat kali lipat lebih besar mengalami kematian akibat serangan jantung selama berhubungan seks karena pasangan mereka terlalu malu untuk meminta bantuan dari luar. 

Para peneliti menemukan bahwa hanya satu dari delapan korban selamat jika mereka mengalami serangan jantung saat beraktivitas seksual dibandingkan setengah korban lainnya yang bisa pulih. 



Dr. Ardalan Sharifzadehgan dari European Georges Pompidou Hospital di Paris, Prancis, menilai data dari 3.028 orang yang menderita gagal jantung. Sebanyak 246 partisipan sedang melakukan aktivitas seksual saat jantung mereka berhenti dimana 17 diantaranya tengah berhubungan seks. 

Menurut mereka, alasan tersebut dikarenakan pasangan mereka lama mencari bantuan seperti layanan gawat darurat sehingga membuat penanganan semakin tertunda dan akibatnya, kesempatan bertahan menurun hingga 10 persen. 

(Baca juga: 6 Prinsip Kebersihan dalam Berhubungan Seks)

"Pasangan merasa kaget dan tak tahu harus bereaksi bagaimana," tukas Dr Sharifzadehgan. "Suami tidak memakai pakaian, begitu juga dengan pasangan. Mereka takut memanggil tetangga karena sangat malu."

Para ahli menemukan bahwa penderita serangan jantung dalam keadaan tersebut cenderung menunggu pertolongan dua kali lipat untuk resusitasi dan menghabiskan rata-rat 8,4 menit tanpa bantuan apapun. 



Sementara, penderita yang mendapat bantuan Cardiopulmonary Resusication (CPR) atau resusitasi jantung paru-paru dan langsung dibawa langsung ke rumah sakit mendapat pertolongan dalam 3,1 menit. 

"Jika ada saksi dalam ruangan, akan lebih baik karena akan ada yang memberikan CPR," tambah Dr Sharifzadehgan. "Namun terkadang ada saksi yang tak melakukan apapun karena takut menyakit penderita."











(TIN)