Pentingnya Keterbukaan Karyawan pada Atasan terkait Tekanan Kerja

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 27 Jul 2018 10:00 WIB
karierpsikologi
Pentingnya Keterbukaan Karyawan pada Atasan terkait Tekanan Kerja
Penelitian membuktikan orang yang merasa dapat berbicara secara terbuka tentang depresi mereka dengan manajer mereka lebih produktif di tempat kerja. (Foto: Nik Macmillan/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah penelitian baru dari London School of Economics (LSE) menemukan bahwa orang yang merasa dapat berbicara secara terbuka tentang depresi mereka dengan manajer mereka lebih produktif di tempat kerja.

Pekerja dengan depresi yang memiliki manajer yang tidak membicarakan tentang kesehatan mental atau menawarkan dukungan cenderung mengambil lebih banyak hari libur yaitu sekitar 4,1 hari libur ekstra.

Penelitian tersebut menganalisis pengaruh budaya tempat kerja dengan mewawancarai sekitar 1000 manajer dan karyawan dari 15 negara yang berbeda.

(Baca juga: Survei: Banyak Generasi Milenial Stres karena Tekanan Kerja)


(Sebuah penelitian baru dari London School of Economics (LSE) menemukan bahwa orang yang merasa dapat berbicara secara terbuka tentang depresi mereka dengan manajer mereka lebih produktif di tempat kerja. Foto: Tim Gouw/Unsplash.com)

Mereka menemukan bahwa orang-orang di Meksiko kemungkinan besar mengatakan bahwa manajer mereka telah menawarkan bantuan atas depresi mereka, dan sebagai hasilnya mereka mengambil lebih sedikit hari izin karena sakit yang berkaitan dengan kesehatan mental. 

Hanya 16 persen pekerja di Jepang yang mengatakan hal yang sama. Sementara di Inggris, sebanyak 53 persen pekerja mengatakan bahwa para manajer menawarkan untuk membantu mengatasi depresi mereka. 

"Penelitian kami menunjukkan bahwa di mana para atasan menciptakan budaya menghindari pembicaraan tentang depresi, karyawan sendiri akhirnya menghindari pekerjaan dan bahkan ketika mereka kembali bekerja mereka tidak seproduktif mereka bisa," terang peneliti Dr Sara Evans-Lacko. 





(TIN)