Beberapa Risiko yang Dialami Tubuh Anda jika Mengonsumsi Mi Instan

Raka Lestari    •    Minggu, 16 Dec 2018 10:25 WIB
mi instan
Beberapa Risiko yang Dialami Tubuh Anda jika Mengonsumsi Mi Instan
Ilustrasi Mi Instan (Foto: Shutterstock)

Jakarta: Sudah bukan rahasia lagi bahwa mi instan merupakan salah satu makanan favorit bagi banyak orang. Entah itu karena proses pembuatannya yang sangat mudah atau karena mi instan merupakan makanan yang gampang ditemukan,

Anda terkadang mungkin menyadari bahwa mengonsumsi mi instan tidak cukup hanya satu porsi saja. Tapi di satu sisi, memakan mi instan terlalu banyak juga tak baik buat tubuh Anda.

Ada beberapa hal berbeda yang menjadikan mi instan pilihan yang tidak sehat. Tidak banyak yang ditawarkan dalam satu bungkus mi instan ini, selain garam dan karbohidrat.

Dikutip dari Reader's Digest, sebagian besar mi instan mengandung lebih dari 1.100 miligram sodium. Jumlah tersebut mendekati setengah dari kadar maksimum yang harus Anda konsumsi per hari.

Ketika Anda mencerna banyak natrium dalam satu kali makan, tubuh Anda akan mempertahankan lebih banyak air. Ini dapat menyebabkan penambahan berat air sementara, membuat Anda merasa kembung dan lesu.

Tetapi ketika Anda merasa kembung, kemungkinan besar Anda tidak akan merasa kenyang. Karena mi instan mengandung banyak karbohidrat olahan dengan hampir tidak ada protein atau serat. Pada dasarnya, mi instan adalah definisi dari kalori kosong.

Mengonsumsi mi instan terlalu banyak ternyata dapat menyebabkan gula darah Anda melonjak. Sehingga membuat Anda mudah merasa lapar yang mengarah ke kenaikan berat badan.

Klik di sini: Cara Menghindari Konsumsi Garam Berlebih


Dr. Braden Kuo dari Massachusetts General Hospital pada 2012 sempat melakukan studi dengan menggunakan kamera seukuran pil untuk merekam saluran pencernaan para sukarelawan yang makan mi instan asal Korea, yaitu mi instan ramen olahan, dengan makanan yang segar.  Dari studi tersebut menunjukkan bahwa, setelah dua jam ketika makanan yang segar sudah lama hilang, mie instan masih hampir seluruhnya utuh di usus.

Studi lain dari Harvard School of Public Health meneliti efek jangka panjang dari konsumsi ramen di Korea Selatan. Di mana mi instan tersebut menjadi makanan pokok utama.

Mereka menemukan bahwa subjek, terutama wanita, yang makan mi instan setidaknya dua kali dalam seminggu memiliki risiko 68 persen lebih tinggi dari sindrom metabolik. Yaitu kombinasi gejala yang meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung dibandingkan dengan subjek yang mengonsumsi makanan alami.

Singkatnya, makan mi instan sesekali tidak akan merusak kesehatan Anda, tetapi sebaiknya jangan dikonsumsi terlalu sering.
(FIR)