Hati-hati, Pemanis Buatan Tingkatkan Risiko Obesitas dan Penyakit Jantung

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 19 Jul 2017 13:24 WIB
kesehatan
Hati-hati, Pemanis Buatan Tingkatkan Risiko Obesitas dan Penyakit Jantung
Para peneliti dari University of Manitoba di Kanada tersebut menyebutkan bahwa pemanis buatan yang semakin banyak digunakan tersebut berhubungan dengan epidemi obesitas. (Foto: The 5th/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi Anda yang sedang berdiet, cobalah hindari konsumsi pemanis buatan. Sebuah studi menemukan bahwa penggunaan pemanis buatan dapat menyebabkan berat badan bertambah dalam jangka waktu panjang dan meningkatkan risiko obesitas. 

Pemanis buatan adalah pengganti gula yang memberikan rasa manis seperti gula namun memberikan asupan energi yang lebih sedikit. 

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa pemanis buatan atau tak bernutrisi memberi efek negatif pada metabolisme, bakteri usus, dan selera makan. 



(Baca juga: 4 Makanan Sehari-hari yang Mengandung Pemanis Buatan)

Selain itu, pengguna pemanis buatan seperti aspartame, sucralose dan stevia; juga lebih berisiko terkena tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. 

Para peneliti dari University of Manitoba di Kanada tersebut menyebutkan bahwa pemanis buatan yang semakin banyak digunakan tersebut berhubungan dengan epidemi obesitas dan beberapa penyakit yang saat ini tengah meningkat. 

Studi yang dipublikasikan dalam CMAJ (Canadian Medical Association Journal) tersebut meneliti 1.003 orang yang diikuti lebih dari enam bulan. 

Percobaan tersebut tidak menunjukkan adanya efek konsisten pemanis buatan pada penurunan berat badan. Sementara studi obsevasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi pemanis buatan dengan risiko kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan beberapa gangguan kesehatan lain yang lebih tinggi. 



"Kami menemukan bahwa belum ada data pendukung dari manfaat pemanis buatan pada manajemen berat badan," ujar Ryan Zarychanski, asisten profesor di University of Manitoba.  

"Kami sedang memperhatikan bagaimana efek kesehatan jangka panjang dari pemanis buatan secara keseluruhan," tambah Meghan Azad, asisten profesor lain. 









(TIN)