5 Mitos Seputar Diet yang Sering Disebarkan di Media Sosial

Raka Lestari    •    Senin, 12 Feb 2018 09:28 WIB
tips kesehatan
5 Mitos Seputar Diet yang Sering Disebarkan di Media Sosial
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Menurut survei tahunan What's Trending in Nutrition, platform media sosial adalah tempat terburuk untuk mencari rekomendasi saran seputar makanan sehat.

Sebanyak 70 persen ahli nutrisi mengatakan, ada banyak kesalahpahaman dari informasi yang disebarluaskan melalui Facebook.

"Facebook penuh dengan kesalahan informasi mengenai kandungan nutrisi pada makanan," kata Leslie Bonci, M.P.H., R.D.N., pemilik Active Eating Advice.

Namun, bukan berarti Anda tidak bisa memercayai apapun yang Anda lihat di media sosial, tapi waspadalah ketika membacanya.

"Facebook bisa menjadi sumber informasi yang baik jika Anda berhati-hati dengan sumbernya. Sebaiknya Anda melihat siapa yang menulis artikel dan juga siapa yang dijadikan sumber," saran ahli diet Angela Lemond.

Berikut ini, mitos seputar diet yang salah yang sering disebarkan di media sosial.

1. Pisang tak baik untuk diet

"Pisang dianggap makanan tinggi gula dan berhubungan dengan fluktuasi kadar gula darah. Hal ini, dianggap dapat menyebabkan penambahan berat badan," jelas Cassandra Forsythe, Ph.D., R.D., C.S.C.S., asisten profesor ilmu olahraga di Central Connecticut State University. Tapi itu tidak benar. Pisang adalah buah-buahan kaya akan potasium yang sangat bagus untuk otot, saraf, dan fungsi otak.

2. Kulit lemon lebih bermanfaat daripada kemoterapi

Meskipun lemon kaya akan vitamin C, yang dalam dosis tinggi melalui beberapa penelitian dianggap sebagai pengobatan anti kanker, dan liminoid, fitokimia yang telah dilakukan dapat mencegah kanker, namun tetap tidak bisa menggantikan kemoterapi dengan lemon.

3. Air kelapa pengganti cairan yang baik setelah berolahraga

"Keringat yang hilang saat berolahraga umumnya terdiri dari sodium elektrolit," jelas ahli fisiologi olahraga Jackie S. Womble, R.D.N. "Air kelapa baik untuk diminum agar tetap terhidrasi sepanjang hari, namun tetap tidak memberikan sodium yang diperlukan untuk mengisi kembali apa yang hilang selama berolahraga. Minuman olahraga adalah pilihan yang lebih baik. "

4. Hanya mengonsumsi bahan organik

Memilih makanan organik dibandingkan yang konvensional merupakan pilihan setiap orang, kata Toby Amidor, R.D.

"Tidak hanya karena tidak ada perbedaan nutrisi antara keduanya, sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa orang berpenghasilan rendah yang tidak mampu untuk makan sayuran organik memilih untuk tidak makan sayuran sama sekali karena mereka menganggap makan sayuran konvensional itu berbahaya," katanya. "Manfaat mengonsumsi sayuran apa pun-entah organik, konvensional, lokal, atau jelek, lebih baik daripada tidak makan sayuran sama sekali."

5. Jangan mengonsumsi kuning telur

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2016, para periset mengamati hubungan antara kolesterol dan konsumsi telur dan penyakit arteri koroner (CAD). Mereka menyimpulkan bahwa keduanya tidak terkait dengan peningkatan risiko CAD.

"Plus, kuning telur memiliki nutrisi lebih banyak daripada yang putih," kata ahli gula darah Valerie Goldstein, RD. Kuning telur mengandung vitamin A, B12, D, E, dan K, bersama dengan lemak omega-3, folat, kolin, dan antioksidan. lutein dan zeaxanthin.





(DEV)