Studi: Sepotong Keju Setiap Hari Bantu Kurangi Peluang Penyakit Jantung

Anindya Legia Putri    •    Selasa, 05 Dec 2017 13:10 WIB
keju
Studi: Sepotong Keju Setiap Hari Bantu Kurangi Peluang Penyakit Jantung
Keju penuh lemak, susu, dan yoghurt tidak meningkatkan bahaya, berdasarkan review terhadap 29 penelitian. (Foto: Brooke Lark/Unsplash.com)

Jakarta: Keju dikatakan memiliki reputasi yang buruk bagi kesehatan Anda. Namun penelitian terbaru di China, menyampaikan bahwa mengonsumsi keju setiap hari justru dapat mengurangi peluang Anda terkena penyakit jantung.

Anda disarankan mengonsumsi keju sebesar 40 gram per hari untuk dapat mengurangi risiko sebesar penyakit jantung sebesar 14 persen. Ukuran porsi yang sama ini juga bisa menurunkan risiko stroke hingga 10 persen.

Periset sangat ingin memahami apa yang disebut dengan 'paradoks Prancis', yakni sebuah fenomena membingungkan dimana orang Prancis yang cenderung mengonsumsi makanan yang kaya kolesterol dan lemak jenuh, namun memiliki tingkat penyakit jantung yang rendah.

Soochow University, China, kini telah menemukan bahwa keju meningkatkan kadar kolesterol 'baik' sekaligus mengurangi kadar kolesterol 'jahat'. Selain itu, keju juga mengandung asam yang bisa membantu mencegah penyumbatan pada arteri.

Awal tahun ini, sebuah studi yang dipimpin oleh Inggris juga menemukan bahwa hampir satu juta orang mengaku tidak ada peningkatan risiko dengan konsumsi keju reguler. Penelitian di China ini dihasilkan melalui analisis 15 studi tentang risiko keju dan jantung.


(Keju penuh lemak, susu, dan yoghurt tidak meningkatkan bahaya, berdasarkan review terhadap 29 penelitian. Foto: Alexander Maasch/Unsplash.com)

"Keju mengandung asam lemak jenuh namun juga memiliki nutrisi yang berpotensi menguntungkan. Tidak jelas bagaimana konsumsi jangka panjang memengaruhi perkembangan penyakit kardiovaskular," ujar peneliti sebagaimana tertulis di European Journal of Nutrition.

(Baca juga: Tebak Kepribadian Melalui Keju Favorit Anda)

Terdapat pula penelitian dari Reading University, di bulan April lalu, pihaknya menyampaikan bahwa mengonsumsi susu tidak meningkatkan risiko menderita serangan jantung atau stroke. Bahkan keju penuh lemak, susu, dan yoghurt tidak meningkatkan bahaya, berdasarkan review terhadap 29 penelitian.

"Ada kepercayaan yang meluas namun keliru di kalangan masyarakat bahwa produk susu pada umumnya dapat menjadi buruk bagi Anda, tapi itu adalah kesalahpahaman. Meskipun kepercayaan itu dipegang secara luas, penelitian kami menunjukkan bahwa itu salah,” tandas Ian Givens, profesor nutrisi rantai makanan di Reading University.

Givens mengatakan bahwa penilaian keliru dengan menghindari versi keju, susu, atau yoghurt berlemak penuh, justru akan dapat membahayakan kesehatan mereka. Kaum muda, terutama wanita muda, berisiko mengalami kerusakan tulang dan osteoporosis karena minum sedikit susu yang mengandung kalsium tinggi.









(TIN)