Kaum Urban Lebih Rentan Terkena TBC

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 28 Nov 2017 16:04 WIB
Kaum Urban Lebih Rentan Terkena TBC
"Dilihat dari prevalensi survei, penderita TB di perkotaan atau urban lebih tinggi daripada pedesaan," ujar dr Asik Surya, MPMM. (Foto: Jason Ortego/Unsplash.com)

Jakarta: Kebanyakan penyakit yang berhubungan dengan pernapasan memiliki gejala batuk. Namun tak selalu dengan Tuberkulosis (TBC), yang bahkan bisa tak menimbulkan gejala, atau justru didiagnosis dengan penyakit lain. 

"TBC adalah penyakit yang sifatnya great imitator atau mudah meniru gejala penyakit lain. Tapi paling signifikan adalah batuk berdahak," tukas Kepala Subdirektorat TB Kementerian Kesehatan dr Asik Surya, MPMM dalam peluncuran Kompetisi Video Blog (Vlog) TBC, Selasa 28 November 2017. 

Sekitar 80 persen dari penderita TBC umumnya mengalami gejala batuk tersebut. Namun, batuk biasa atau batuk kering bisa juga menjadi gejala TBC, dan batuk berdahak tak selalu berarti penyakit tersebut. 


("Dilihat dari prevalensi survei, penderita TB di perkotaan atau urban lebih tinggi daripada pedesaan," ujar dr Asik Surya, MPMM. Foto: Jason Chen/Unsplash.com)

Bahkan, untuk beberapa kasus, tidak muncul gejala sama sekali. Oleh karena itu, dr Asik menyarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin, terutama bila sudah memiliki faktor risiko. 
(Baca juga: Banyak Kasus TBC Belum Terdeksi dan Terlaporkan)

Ia melanjutkan, ada berbagai faktor risiko dari penyakit tersebut, salah satunya lingkungan dimana orang sekitar yang pernah terkena TB juga dapat menyebarkan bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis tersebut. 

"Mereka yang tinggal di daerah yang padat kumuh (lebih rentan). Dilihat dari prevalensi survei, penderita TB di perkotaan atau urban lebih tinggi daripada pedesaan," tambahnya. 

TBC adalah penyakit saluran pernapasan serius yang umumnya menyerang mereka yang berusia produktif. Lama pengobatan untuk penyakit ini normlanya adalah enam bulan. 







(TIN)