Masyarakat Mesti Paham Bahaya Resistensi Antibiotik

Dhaifurrakhman Abas    •    Kamis, 15 Nov 2018 20:03 WIB
antibiotik
Masyarakat Mesti Paham Bahaya Resistensi Antibiotik
World Health Organization (WHO) memprediksi ada 700 ribu kematian setiap tahun akibat resistensi antibiotik. (Foto: Ilustrasi. Dok. Sharon Mccutcheon/Unsplash.com)

Jakarta: Masyarakat Indonesia dinilai sering menyalahi aturan dalam mengonsumsi antibiotik. Sakit sedikit, langsung meminta terapi antibiotik ke pihak medis atau membelinya sendiri di apotek.

Padahal mengonsumsi antibiotik tidak boleh sembarangan saja. Dibutuhkan resep dokter dan keahlian medik hingga uji laboratorium untuk menentukan dosis antibiotik yang tepat buat pasien. Itupun jika bersifat sangat dibutuhkan.

"Dalam penggunaannya, masyarakat sering salah kaprah. Permasalahannya sakit sedikit pakai antibiotik. Antibiotik hanya bisa membunuh bakteri, bukan virus," kata Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), dr. Anis Karuniawati, di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, Kamis 15 November 2018.

(Baca juga: Perlukah Antibiotik untuk Obati Radang Tenggorokan?)

Jika tak sesuai dosis, bisa-bisa mengakibatkan bakteri kebal terhadap antibiotik atau karib disebut resistensi antibiotik. Kondisi ini mengakibatkan tubuh tak lagi bisa melawan infeksi, bahkan menyebabkan kecacatan hingga kematian.

World Health Organization (WHO) memprediksi ada 700 ribu kematian setiap tahun akibat resistensi antibiotik.

Masih dalam penelitian yang sama, WHO juga memprediksi 10 juta kematian akibat resistensi antibiotik pada 2050.

"Industri farmasi juga belum ada obat antibiotik baru diciptakan. Yang ada hanya memodifikasi yang sudah ada untuk digunakan pada pasien," ujarnya.

Jika tetap tak ampuh dengan modifikasi antibiotik, biasanya pihak medis menyarankan prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi dan operasi besar lain. Tentunya hal ini sangat berisiko terhadap keuangan karena biaya prosedur diatas terbilang mahal.

"Untuk itu kami mengimbau masyarakat, menggunakan antibiotik dengan bijak dan benar," ujar Anis.

Anies juga mengimbau apotek dan toko obat tidak sembarangan menjual obat antibiotik kepada masyarakat. Dia meminta toko-toko dan apotek berkiblat pada Permenkes nomor 8 tahun 2015 yang sudah mengatur penatalaksanaan antibiotik.

"Tantangannya sekarang adalah bagaimana semua komunitas kesehatan, terutama manajemen rumah sakit agar secara konsisten mengimplementasikan aturan ini di lapangan," pungkasnya.




(TIN)