Kapan Dilakukan Pemeriksaan yang Sebabkan Keguguran Berulang?

Yatin Suleha    •    Senin, 07 Nov 2016 00:00 WIB
kehamilan
Kapan Dilakukan Pemeriksaan yang Sebabkan Keguguran Berulang?
Jika ada riwayat mengalami abortus berulang, atau pertumbuhan janin yang kecil, sebaiknya calon ibu segera memeriksakan diri. (Foto: Raipurivf)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keguguran berulang bukan hanya membuat sedih, namun juga merupakan masalah besar bagi pasangan yang mengidamkan kehadiran buah hati. Dari berbagai macam faktor penyebab keguguran berulang, ternyata salah satunya adalah pengentalan darah.

Pengentalan darah adalah meningkatnya fiskositas darah. Secara sederhana, ini berarti kecepatan aliran darah menurun karena jumlah partikel-partikel yang ada di dalam darah meningkat sehingga darah tidak encer.

Menurut dr. Budiman Japar, SpOG, dari RS Royal Taruma, Jakarta menyebutkan bahwa biasanya 60 persen keguguran terjadi karena kelainan kromosom. Yang lain-lainnya barulah masalah infeksi, hormonal, termasuk juga masalah kekentalan darah.

(Baca juga: Ciri-Ciri Kandungan Sehat)

Kapan sebaiknya Anda memeriksakan diri?
Jika ada riwayat mengalami abortus berulang, atau pertumbuhan janin yang kecil, dr. Budiman menyarankan sebaiknya calon ibu segera memeriksakan diri.

"Pemeriksaan baru dilakukan jika memang sudah terdapat riwayat keguguran berulang," jelasnya. Untuk pemeriksaan pengetalan darah dokter akan memeriksa apakah ada ACA (anti cardiolipin antibodies atau pengentalan darah) atau tidak. "Jika hasilnya positif dengan titer cukup tinggi, dokter akan memberikan pengobatan," tukasnya.

Namun pengobatan tidak diberikan jika titernya di bawah 25 IgGnya. Patokan dokter diatas 25 sampai 70 untuk bisa dicurigai adanya gangguan pada kehamilan. "Tapi, kalau cuma sampai 23 itu normal. Diatas 23 itu harus pengobatan. Dokter juga akan memberikan pratelet, misalnya yang dimakan seperti aspirin atau yang disuntik seperti heparin," jelasnya lagi.

Saran dr. Budiman juga menegaskan bahwa penggunaan pengobatan medis harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis kandungan agar tidak mendatangkan perdarahan pada bayi.

"Bisa terjadi perdarahan di plasenta dan otak bayi, sehingga pengunaannya harus dalam pengawasan dokter. Selain itu juga bisa menimbulkan perdarahan pada saat persalinan."





(TIN)