Bagaimana Berkomunikasi dengan Penderita Gagap?

Nia Deviyana    •    Selasa, 18 Oct 2016 12:44 WIB
kamus kesehatan
Bagaimana Berkomunikasi dengan Penderita Gagap?
(Foto: Alcom)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gagap merupakan gangguan bicara, dan kerap menjadi kendala dalam berkomunikasi. Ditinjau dari segi psikologi, gagap juga dapat menurunkan tingkat percaya diri penderitanya.

Dr. Leonardi Goenawan, Sp. KJ, Spesialis Kesehatan Jiwa RS Pondok Indah– Puri Indah memberi paparan terkait gangguan ini.

Gagap, dalam ICD-10 (International Classification of Diseases-WHO) dicirikan dengan adanya pengulangan atau perlambatan pengucapan suku kata, kata-kata, atau adanya penghentian, dan tersendatnya aliran pembicaraan yang mengganggu kelancaran komunikasi.

"Bisa lebih lama atau lebih panjang dari seharusnya (mengulang-ngulang), sulit memulai suatu kata, dan merasa tegang saat memulai pembicaraan," jelas Dr Leonardi.

Gagap sering terjadi pada anak-anak, saat mereka belajar bicara. Prevalensi anak laki-laki yang menderita gagap 3 kali lebih banyak daripada perempuan.

Disitat Web MD, gagap dimulai pada masa anak belajar bahasa (usia 2-7 tahun), dan akan hilang sendiri sebelum pubertas. Hal ini dikategorikan disfluency normal atau bagian normal dari perkembangan bahasa. Sebagian besar anak-anak tidak merasa terganggu menderita gangguan ini, bahkan tidak menyadarinya.

Gagap pada anak-anak biasanya akan hilang seiring bertambahnya usia.

Gagap yang memburuk dari waktu ke waktu disebut gagap perkembangan. Jenis gagap ini secara tak langsung menurunkan rasa percaya diri seseorang. Gangguan yang sering dialami orang dewasa ini bisa ditangani, tetapi sulit, dan harus ada kerja keras dari penderitanya untuk sembuh.

Gagap terjadi ketika otak tidak dapat mengirim dan menerima pesan dengan cara normal.

Pada anak-anak, gagap terjadi karena adanya gangguan perkembangan. Seorang ahli patologi wicara mendiagnosa gagap pada anak-anak dengan menyuruhnya membaca dengan suara keras. Dengan demikian, patolog dapat melihat gangguan dengan melihat pola bicara.

Pada orang dewasa, gagap dikaitkan dengan cedera, masalah kesehatan, atau trauma emosional yang berat. Untuk mendiagnosanya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, memberi beberapa pertanyaan, dan mendengarkan pasien saat berbicara.

Mengobati gagap

Sebelum melakukan pengobatan gagap dengan anak-anak, ahli patologi biasanya akan melakukan konseling dengan orangtua, untuk membicarakan apakah anak perlu melakukan terapi wicara atau tidak (mengingat gagap pada anak biasanya sembuh dengan sendirinya).

Konseling juga bertujuan agar orangtua memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan anak. Terapi wicara dinilai penting, terutama jika gagap yang diderita kian memburuk.

Beda halnya dengan gagap yang dialami orang dewasa, terapi wicara dan konseling wajib dilakukan. Konseling membantu mengelola kecemasan, menghindari perasaan rendah diri, dan menekan faktor lain yang bisa memperparah gagap.

Ketika gagap disebabkan oleh kerusakan otak- seperti cedera pada kepala- pengobatan dapat mencakup terapi bicara, rehabilitasi fisik, obat-obatan, dan perawatan untuk kerusakan otak itu sendiri.

Bagaimana berkomunikasi dengan penderita gagap?

Dr Leonardi mengatakan, bahwa kita mungkin berempati dengan penderita gagap. Namun, tetaplah bersikap biasa dan sopan memperlakukan lawan bicara.

"Tidak perlu berempati secara berlebihan karena justru akan membuat mereka semakin tidak percaya diri," saran dia.

Kita juga boleh memberikan motivasi, akan tetapi sebaiknya tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

"Misalnya, kita memberi nasihat, padahal bisa jadi mereka tak membutuhkannya. Yang ada justru akan menyinggung perasaannya. Dengan menjadi pendengar yang baik, sudah cukup memberi motivasi bagi penderita gagap agar tidak merasa rendah diri," pungkasnya.


(DEV)