Studi: Vaping Berisiko Terkena Kanker dan Penyakit Jantung

Raka Lestari    •    Selasa, 06 Feb 2018 12:13 WIB
studi kesehatan
Studi: Vaping Berisiko Terkena Kanker dan Penyakit Jantung
Baru-baru ini, terdapat sebuah penelitian yang menemukan bahwa rokok eletrik atau vape dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya. (Foto: Courtesy of Getty Images)

Jakarta: Rokok elektrik mungkin dianggap sebagai alternatif lain untuk mengurangi kebiasaan merokok. Meskipun bisa membantu seseorang mengurangi kebiasaan merokok, rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan perasa yang bisa mengganggu fungsi jantung Anda.

Baru-baru ini, terdapat sebuah penelitian yang menemukan bahwa rokok eletrik atau vape dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya.

Studi yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, para periset menghubungkan asap rokok dengan kerusakan DNA di paru-paru, kandung kemih, dan jantung pada tikus.

Tikus menghirup 10 miligram per mililiter asap rokok elektrik selama tiga jam sehari, lima hari seminggu dengan total 12 minggu, dikutip dari The Guardian. Meskipun penelitian ini dilakukan pada tikus, para peneliti menyatakan dalam penelitian tersebut dapat berimplikasi terhadap manusia juga. 

(Baca juga: Rokok Elektrik Juga Bisa Merusak Gigi dan Gusi)


(Baru-baru ini, terdapat sebuah penelitian yang menemukan bahwa rokok eletrik atau vape dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya. Foto: Sebastian Pociecha/Unsplash.com)

"Kami menemukan bahwa asap rokok elektrik dapat menyebabkan kerusakan DNA dan menghambat perbaikan DNA. Selain itu dapat menyebabkan kanker paru-paru dan kanker kandung kemih serta penyakit jantung, walaupun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendukung temuan ini," tulis mereka.

Moon-shong Tang, Ph.D, profesor ilmu lingkungan di Universitas New York dan salah satu penulis studi tersebut, mengatakan kepada The Guardian bahwa saat mereka mulai mengerjakan percobaan jangka panjang untuk membuktikan teori mereka, memang tidak ada dampak yang terlihat dalam waktu dekat. 

"Hasilnya mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa terdeteksi karena kanker adalah proses yang lamban," kata Tang.

National Academies of Science, Engineering and Medicine menerbitkan sebuah laporan pada tanggal 23 Januari yang menyebutkan beberapa risiko lain yang menyertainya, termasuk fakta bahwa remaja dan dewasa muda lebih mungkin untuk merokok rokok biasa jika mereka merokok rokok elektrik.










(TIN)